ESAI : Mengasah kemampuan multikecerdasan peserta didik, sebuah inspirasi dari SDS IT Amalia Cibinong Bogor

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 9 September 2023 | 23:34 WIB
Idris Apandi, Widyaprada Ahli Madya BBPMP Provinsi Jawa Barat
Idris Apandi, Widyaprada Ahli Madya BBPMP Provinsi Jawa Barat

Merinding dan takjub. Itulah dua kata yang saya bisa katakan saat melihat tarian Ratoh Jaroe yang ditampilkan oleh 122 orang siswa kelas 6 Sekolah Dasar Swasta Islam Terpadu (SDS IT) Amalia Kec. Cibinong Kabupaten Bogor.

Para siswa tampak sangat rancak, kompak, dan gesit dalam menampilkan tarian yang berasal dari provinsi Aceh tersebut sehingga menampilkan paduan gerakan dan koreografi yang sangat menarik dan sangat indah. 

Penampilan mereka adalah penampilan dadakan sebagai bentuk penghormatan dan menyambut tamu yang datang ke sekolah. 

Saya beserta rekan saya berkunjung ke sekolah tersebut tanggal 1 September 2023. Walau mendadak, para siswa yang tampil tampak siap dan antusias menampilkan tarian tersebut. 

Baca Juga: Polres Subang bagikan air bersih pada warga Desa Batusari yang alami kesulitan air dan kekeringan

Sri Suhartati KS SDS IT Amalia menyampaikan bahwa sekolah memiliki 'bank penampilan', yaitu semacam koleksi aksi atau penampilan yang akan ditampilkan sewaktu-waktu jika diperlukan. 

Oleh karena itu, jauh-jauh hari melatih dan membekali peserta didik dengan beragam kreativitas yang sewaktu perlu untuk ditampilkan. 

Selain itu, kreativitas tersebut akan ditampilkan pada acara-acara sekolah seperti acara Haflatulqur’an. Pada saat Haflatulqur’an siswa yang menarikan tarian tersebut hampir 400 siswa.

Melakukan tarian kolosal yang melibatkan puluhan bahkan ratusan orang bukan hal yang mudah. Hal ini tentunya memerlukan latihan yang fokus, sungguh-sungguh, dan serius. 

Baca Juga: Teropong dunia pendidikan di daerah, ini kata H. Saenudin terkait guru penggerak dan standar mutu pendidikan

Dalam pikiran saya, ini anak-anak SD yang tampil. Anak SD tidak mudah untuk diarahkan, tetapi dengan keuletan guru-guru dalam melatih dan membimbing para peserta didik tersebut. 

Tarian, apalagi yang dilakukan oleh banyak orang selain memerlukan keterampilan individu para penarinya juga memerlukan kerjasama, koordinasi, dan komunikasi antarsesama penari. 

Tarian Ratoh Jaroe yang dilakukan dengan gerakan yang cepat dan ritmis cukup sulit dilakukan, tetapi karena siswa sudah sering berlatih, maka hal tersebut terlihat mudah untuk dilakukan. 

Hal yang membuat saya semakin takjub adalah ternyata diantara 122 penari, ada 9 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Luar biasa kemampuan guru-gurunya dalam mengarahkan anak ABK menari bersama dengan siswa yang non-ABK. SDS IT Amalia adalah sekolah inklusif. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X