ESAI : Acara pelepasan lulusan yang bermakna

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Selasa, 23 April 2024 | 23:53 WIB
Idris Apandi, Praktisi Pendidikan
Idris Apandi, Praktisi Pendidikan

Baca Juga: Usai kejar target PAD, Perumda TRS akan lakukan tiga hal ini, salah satunya perbaikan fasilitas untuk menunjang kerja pegawai

Bahkan dalam konteks pendidikan karakter, acara tersebut juga bisa dijadikan sebagai sarana pendidikan karakter. Misalnya, acara pelepasan lulusan bisa dilakukan hanya dalam bentuk kumpulan di sekolah.

Orang tua dan peserta didik hadir. Salam-salaman dengan para guru. Pihak sekolah menyerahkan kembali anak-anak didiknya kepada orang tuanya setelah 6 tahun (SD/sederajat) atau 3 tahun (SMP/SMA/SMK/sederajat) belajar di sekolah.

Sedangkan orang tua mengucapkan terima kasih kepada sekolah yang telah mendidik anak-anaknya.

Sesederhana itu. Kalau pun mau diadakan acara makan-makan, orang tua bisa membawa rantang atau makanan untuk dimakan bersama dengan anak dan gurunya.

Baca Juga: APBD Subang Rp3,8 T, sedangkan anggaran pembangunan 30 persen, bisakah Subang bergerak menjadi daerah maju?

Di situ suasana kekeluargaannya akan sangat terasa. Kalau pun ada hiburan, diselenggarakan dengan format yang sederhana agar tidak memerlukan biaya yang besar.

Jadi, sesederhana itu sebenarnya acara pelepasan lulusan dari sekolah. Yang membuat jadi repot dan ribet adalah justru asesor-asesorisnya sehingga memerlukan biaya yang tinggi.

Belum lagi nanti peserta didik yang mengikuti acara pelepasan biasanya harus memakai pakaian daerah atau dihias. Hal tersebut tidak lepas dari biaya. Dan tentunya akan menjadi beban bagi orang tua.

Kegiatan pelepasan lulusan yang bermakna juga bisa juga dilakukan dengan tematik, misalnya kegiatan 'selamatkan bumi' melalui kegiatan menanam pohon di lahan kritis untuk penghijauan.

Baca Juga: RA Kartini, suarakan emansipasi wanita di tengah tatanan tradisional, ini yang diperjuangkanya

Itu adalah bentuk kepedulian dan aksi nyata dari peserta didik untuk menyelamatkan bumi dan melestarikan alam.

Atau melalui kegiatan bakti sosial ke panti asuhan, rumah jompo, berbagi ke kuam dhuafa, membagikan seragam dan buku yang masih layak kepada pihak yang memerlukan.

Hal tersebut akan jauh lebih bermakna dan bermanfaat. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk membangun karakter, membangun kepedulian, dan meningkatkan empati peserta didik.

Intinya, jangan jadikan acara pelepasan lulusan atau acara akhir tahun sebagai beban baru bagi orang tua mengingat kemampuan dan kondisi ekonomi orang tua beragam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X