Bahkan dalam konteks pendidikan karakter, acara tersebut juga bisa dijadikan sebagai sarana pendidikan karakter. Misalnya, acara pelepasan lulusan bisa dilakukan hanya dalam bentuk kumpulan di sekolah.
Orang tua dan peserta didik hadir. Salam-salaman dengan para guru. Pihak sekolah menyerahkan kembali anak-anak didiknya kepada orang tuanya setelah 6 tahun (SD/sederajat) atau 3 tahun (SMP/SMA/SMK/sederajat) belajar di sekolah.
Sedangkan orang tua mengucapkan terima kasih kepada sekolah yang telah mendidik anak-anaknya.
Sesederhana itu. Kalau pun mau diadakan acara makan-makan, orang tua bisa membawa rantang atau makanan untuk dimakan bersama dengan anak dan gurunya.
Di situ suasana kekeluargaannya akan sangat terasa. Kalau pun ada hiburan, diselenggarakan dengan format yang sederhana agar tidak memerlukan biaya yang besar.
Jadi, sesederhana itu sebenarnya acara pelepasan lulusan dari sekolah. Yang membuat jadi repot dan ribet adalah justru asesor-asesorisnya sehingga memerlukan biaya yang tinggi.
Belum lagi nanti peserta didik yang mengikuti acara pelepasan biasanya harus memakai pakaian daerah atau dihias. Hal tersebut tidak lepas dari biaya. Dan tentunya akan menjadi beban bagi orang tua.
Kegiatan pelepasan lulusan yang bermakna juga bisa juga dilakukan dengan tematik, misalnya kegiatan 'selamatkan bumi' melalui kegiatan menanam pohon di lahan kritis untuk penghijauan.
Baca Juga: RA Kartini, suarakan emansipasi wanita di tengah tatanan tradisional, ini yang diperjuangkanya
Itu adalah bentuk kepedulian dan aksi nyata dari peserta didik untuk menyelamatkan bumi dan melestarikan alam.
Atau melalui kegiatan bakti sosial ke panti asuhan, rumah jompo, berbagi ke kuam dhuafa, membagikan seragam dan buku yang masih layak kepada pihak yang memerlukan.
Hal tersebut akan jauh lebih bermakna dan bermanfaat. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk membangun karakter, membangun kepedulian, dan meningkatkan empati peserta didik.
Intinya, jangan jadikan acara pelepasan lulusan atau acara akhir tahun sebagai beban baru bagi orang tua mengingat kemampuan dan kondisi ekonomi orang tua beragam.
Artikel Terkait
ESAI : Rendahnya minat baca pada anak
ESAI : Moderasi beragama
ESAI : Penerapan pendidikan karakter bagi pembentukan sikap siswa
ESAI : Guru mengalami tingkat stres yang tinggi, apa solusinya?
ESAI : Mengapa adab lebih utama ketimbang ilmu?
ESAI : Guru penggerak, bergerak, menggerakkan, berdampak dan menginspirasi
ESAI : Peran guru dalam memelihara pengetahuan global di era artificial intelligence