Jadi dalam membangun karakter sangat dibutuhkan sosok yang menjadi model dalam kehidupan kita. Semakin dekat model dengan peserta didik maka akan semakin mudah dan efektif pendidikan karakter tersebut.
Baca Juga: 26 November, Hari Ulang Tahun Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut
Lewat pembelajaran modeling akan terjadi internalisasi berbagai perilaku moral dan aturan-aturan untuk melakukan tindakan yang baik.
Perilaku manusia dapat diperoleh melalui cara pengamatan model, dari mengamati orang lain dan membentuk ide-ide baru dan perilaku yang baik sehingga dapat digunakan sebagai arahan untuk menjalani kehidupan.
Sebab seseorang dapat belajar dari contoh yang dilakukan oleh orang lain dan menjauhi kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.
Model terdekat bagi peserta didik tentu saja orang tua, tetapi semakin dewasa anak akan semakin acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitarnya Sera media yang semakin merusak.
Sehingga gurulah yang akhirnya diharapkan mampu menjadi model bagi peserta didik. Keefektifan guru sebagai model sudah keuji sepanjang zaman.
Karena sering kali kita temukan dalam kehidupan nyata seorang anak yang lebih mempercayai omongan gurunya daripada orangtuanya terutama terhadap anak-anak yang baru mengenal pendidikan diluar rumah.
Pada prinsipnya yang harus dimiliki seorang guru sebagai teladan kepada peserta didik nya diantaranya guru harus mengetahui karakter apa saja yang harus dimiliki oleh peserta didik serta nilai nilai yang patut diajarkan kepada peserta didik untuk menjadikan pribadi yang berkarakter yakni cinta kepada Allah SWT, bertanggung jawab, disiplin, jujur, mandiri, amanah, rendah hati dan masih banyak yang lainnya.
Menurut Mendikbud hal bermakna saat ini yang harus disadari oleh semua pendidik adalah perlunya pendidikan karakter generasi bagi penerus bangsa.
Peserta didik di era modern ini selain perlu mempunyai keterampilan abad ke-21, namun juga harus mempunyai bekal jiwa Pancasila yang baik untuk menghadapi dinamika perubahan yang sangat cepat dan tidak terduga saat ini.
Guru harus dapat berperan sebagai ‘the significant other’ bagi peserta didik. Karena guru harus menjadi sumber keteladanan bagi peserta didiknya.
Dan semua pihak perlu mendukung guru-guru kita untuk dapat mewujudkan generasi yang cerdas, kompetitif, dan berakhlak mulia.
Artikel Terkait
ESAI : Mengasah kemampuan multikecerdasan peserta didik, sebuah inspirasi dari SDS IT Amalia Cibinong Bogor
ESAI : Urgensi moderasi beragama dalam pendidikan Islam bagi generasi milenial
ESAI : Setelah lulus guru penggerak, kok jadi sombong?
ESAI : Pencegahan kekerasan di satuan pendidikan berbasis pancasila dan kearifan lokal di Provinsi Jawa Barat
ESAI : Spirit Sumpah Pemuda dan persiapan pemilu serentak 2024
ESAI : Mengenang tragedi semanggi 1998, perjuangan demokrasi dan darah para demonstran
ESAI : Dampak fenomena childfree di Indonesia