Whoosh: Ketika ambisi politik mengalahkan rasionalitas ekonomi

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Minggu, 19 Oktober 2025 | 14:54 WIB
Ilustrasi Whoosh. Proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung yang dikenal dengan nama Whoosh (KCIC)
Ilustrasi Whoosh. Proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung yang dikenal dengan nama Whoosh (KCIC)

Secara finansial, Dr. Harris menilai proyek ini mengandung fiscal illusion, di mana biaya besar ditutupi narasi bahwa proyek tidak memakai APBN. Padahal, risiko akhirnya tetap ditanggung negara melalui BUMN.

“KAI kini menanggung utang besar kepada CDB, sementara arus kas negatif. Narasi bahwa negara tidak menanggung kerugian hanyalah ilusi fiskal,” tegasnya.

Legasi yang harus dievaluasi

Dr. Harris menegaskan bahwa Whoosh bukan hanya proyek transportasi, melainkan cermin cara negara mengambil keputusan strategis.

“Pembangunan seharusnya tidak diukur dari seberapa cepat diresmikan, tapi dari keberlanjutan ekonomi dan manfaat sosialnya,” tulisnya.

Baca Juga: Pemerintah luncurkan Program Magang Nasional: 26 ribu posisi sudah dibuka, gaji setara UMK dan jaminan sosial disiapkan

Ia berharap proyek seperti ini menjadi pelajaran bagi pemerintahan berikutnya agar megaproyek ke depan dilakukan dengan transparansi penuh, audit independen, dan keterlibatan publik.

“Keberanian membangun harus disertai keberanian berpikir rasional di tengah tekanan politik,” pungkas Dr. Harris Turino Kurniawan.***

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X