Puasa dan efek komunikasi verbal menuju harmoni sosial

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Rabu, 4 Maret 2026 | 05:21 WIB
Rudi Haryono, Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA)
Rudi Haryono, Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA)

GENMILENIAL.ID – Bulan suci Ramadan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga ruang pembelajaran untuk mengelola lisan dan komunikasi verbal agar tercipta harmoni sosial.

Hal ini disampaikan Rudi Haryono, Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, dalam refleksinya tentang makna puasa dan dampaknya terhadap kehidupan bermasyarakat.

Menurut Rudi, ibadah puasa memiliki karakteristik unik dan personal karena bersifat tersembunyi atau private and hidden ritual worship.

Setiap perintah ibadah yang Allah perintahkan memiliki hikmah yang berdampak pada hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia.

Baca Juga: Bukber Polresta Banyuwangi jadi momentum perkuat kerja sama dengan media

Dalam praktiknya, puasa tidak hanya membatasi aktivitas biologis seperti makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari, tetapi juga menahan diri dari perkataan yang kotor, menghina, menggosip, hingga melontarkan ujaran yang menyakiti orang lain. Di sinilah puasa memiliki dimensi sosial yang kuat.

Puasa dan etika berkata

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berkata baik atau qaulun hasanah. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam.

Pesan ini menegaskan bahwa komunikasi verbal memiliki konsekuensi moral. Rudi menjelaskan bahwa dalam konteks puasa, pengendalian lisan menjadi indikator keberhasilan spiritual.

Baca Juga: Viral nenek di Magetan ditagih utang, uang tak cukup ingin lunasi dengan beras dan gula

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa Allah tidak membutuhkan rasa lapar dan haus seseorang jika ia tetap melontarkan dusta dan perkataan tercela.

Artinya, puasa tidak hanya ritual fisik, tetapi juga latihan pengendalian diri dalam komunikasi. Jika seseorang tidak mampu berkata baik, maka diam menjadi pilihan yang lebih utama demi menjaga harmoni dan ketenteraman sosial.

Komunikasi Verbal dan Potensi Konflik

Sebagai makhluk sosial atau zoon politicon sebagaimana istilah Aristoteles, manusia tidak pernah lepas dari komunikasi verbal maupun nonverbal.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X