GENMILENIAL.ID – Bulan suci Ramadan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga ruang pembelajaran untuk mengelola lisan dan komunikasi verbal agar tercipta harmoni sosial.
Hal ini disampaikan Rudi Haryono, Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, dalam refleksinya tentang makna puasa dan dampaknya terhadap kehidupan bermasyarakat.
Menurut Rudi, ibadah puasa memiliki karakteristik unik dan personal karena bersifat tersembunyi atau private and hidden ritual worship.
Setiap perintah ibadah yang Allah perintahkan memiliki hikmah yang berdampak pada hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia.
Baca Juga: Bukber Polresta Banyuwangi jadi momentum perkuat kerja sama dengan media
Dalam praktiknya, puasa tidak hanya membatasi aktivitas biologis seperti makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari, tetapi juga menahan diri dari perkataan yang kotor, menghina, menggosip, hingga melontarkan ujaran yang menyakiti orang lain. Di sinilah puasa memiliki dimensi sosial yang kuat.
Puasa dan etika berkata
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berkata baik atau qaulun hasanah. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam.
Pesan ini menegaskan bahwa komunikasi verbal memiliki konsekuensi moral. Rudi menjelaskan bahwa dalam konteks puasa, pengendalian lisan menjadi indikator keberhasilan spiritual.
Baca Juga: Viral nenek di Magetan ditagih utang, uang tak cukup ingin lunasi dengan beras dan gula
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa Allah tidak membutuhkan rasa lapar dan haus seseorang jika ia tetap melontarkan dusta dan perkataan tercela.
Artinya, puasa tidak hanya ritual fisik, tetapi juga latihan pengendalian diri dalam komunikasi. Jika seseorang tidak mampu berkata baik, maka diam menjadi pilihan yang lebih utama demi menjaga harmoni dan ketenteraman sosial.
Komunikasi Verbal dan Potensi Konflik
Sebagai makhluk sosial atau zoon politicon sebagaimana istilah Aristoteles, manusia tidak pernah lepas dari komunikasi verbal maupun nonverbal.
Artikel Terkait
Puasa 6 hari di bulan Syawal harus berurutan atau boleh terpisah? begini penjelasannya
Pahalanya setara setahun berpuasa, ini 3 niat puasa 6 hari di bulan Syawal sesuai dengan kondisi saat akan memulai
Puasa Arafah dilaksanakan Kamis, 5 Juni 2025: Ini niat dan hadis yang dianjurkan
Tantangan besar John Herdman di Timnas Indonesia: Misi akhiri puasa gelar 30 tahun di Piala AFF 2026
ESAI: Literasi dan aktivisme
Ramadan 2026 di tenda pengungsian Aceh Tamiang, ibu ini ingin ajarkan anak puasa di tengah panas dan keterbatasan
Gus Miftah buka puasa bareng pekerja Colosseum Jakarta, kembali berdakwah di klub malam