Matanya hanya berfokus pada secarik kertas yang telah berlumur tinta di atas meja. Sesekali, tubuhnya yang kering meregang. Napasnya ditarik sangat panjang.
Ia pun segera meraba asbak di atas meja, menghisap sebatang rokok yang sebagian besarnya telah terbakar menjadi abu. Asap-asap segera beterbangan di ruangan sempit itu.
Dadaku serasa melayang saat asap mulai mengepul ke arahku, merayap masuk melalui lubang mulut dan hidung.Tak perlu menunggu lama, rentetan suara muncul dari mulutku.
Baca Juga: Penuh perjuangan, viral momen guru SD terpencil di Sulteng bagikan momen persiapan pawai 17-an
Rasa perih dari tenggorokan membuatku tak bisa menahan batuk. Lelaki itu, yang masih menjelma menjadi pemuda, mengalihkan pandangannya.
“Maafkan, aku tak tahu jika kau ada di sana,” ia segera menghunuskan puntung rokok di sela jarinya pada sudut meja.
Pemuda itu lalu beranjak dari tempatnya singgah, menghampiriku, dan mengulurkan tangan yang penuh dengan stipo itu.
“Maaf, minta maaf sekali.”
Aku hanya mengangguk-angguk melihat gelagatnya. Sesekali terlintas di ingatanku, seorang pahlawan kecil yang meminta maaf tak henti-henti hanya karena tak sengaja mematahkan pensil milikku, dulu saat menginjak pendidikan sekolah dasar.
Aku meraih uluran tangannya. Kami pun akhirnya saling memperkenalkan diri. Aku seorang mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris, ia mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Sejak hari itu kami saling berbincang. Bahkan, setelah sekian kali bertemu kami semakin akrab. Ia meminta pendapatku tentang cerpen miliknya, begitu pun denganku.
Perihal tugas yang belum sedikit pun kumulai sejak diberikan dosen seminggu sebelumnya, pada akhirnya dia yang akan menjadi penyelamat.
Mataku segera berpaling dari sisi koran bergambar wajah lelaki itu. Keduanya segera berkelana, mengarungi lautan kata yang terpampang di dalam cerita ini.
Baca Juga: BEM UI dan 25 aliansi demo di Bundaran HI, tuntut keadilan ekonomi dan status bencana nasional
Artikel Terkait
CERPEN: Takbir Padang Karbala
CERPEN: Pelangi purba di langit Melayu
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
CERPEN: Lepasin aja, Kal
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa
CERPEN: Kota di atas bayangan
Di balik romantisme hujan, diskusi semiotika dan feminis cerpen Fileski digelar di Madiun