Pagi itu, stasiun sudah mulai ramai oleh orang-orang yang bergegas. Suara sepatu beradu dengan lantai peron, bercampur dengan pengumuman kedatangan kereta yang terdengar samar di antara riuh percakapan.
Abii dan Niskala berdiri bersebelahan, menunggu kereta yang akan membawa mereka ke arah yang sama.
Langit Jakarta terlihat berat, seolah hujan sudah menunggu aba-aba untuk jatuh. Namun wajah keduanya justru cerah, seakan mendung tak mampu merampas kehangatan dari percakapan yang mereka miliki.
Tak jauh dari mereka, seorang ibu paruh baya tampak duduk di bangku besi panjang sambil menggendong anak balitanya.
Baca Juga: Titiek Soeharto soroti beras tua di gudang Bulog, minta pemerintah segera keluarkan
Balita itu terus merajuk, menangis kencang, sementara ibu itu berusaha menenangkan dengan nyanyian lirih. Namun beberapa orang di sekitar menoleh dengan tatapan kesal.
Ada yang menggerutu pelan, ada pula yang sengaja menutup telinga dengan earphone sambil mendecak.
Niskala memperhatikan, matanya terpaku pada ibu yang semakin gelisah oleh tatapan-tatapan itu. Ia menunduk, wajahnya merah, seolah merasa bersalah hanya karena anaknya menangis.
Abii yang berdiri di samping Niskala juga melihat kejadian itu. Ia mendesah pelan. “Lihat deh, Kal,” ucapnya pelan, “kadang dunia ini gampang banget menghakimi. Padahal yang terjadi cuma seorang anak yang lagi nangis. Kayak, sesuatu yang wajar, sesuatu yang manusiawi nggak sih?”
Baca Juga: Timnas Indonesia rilis 27 nama hadapi Kuwait dan Lebanon, Paes–Ole absen, Klok comeback
Niskala mengangguk perlahan, masih menatap balita itu. “Aku kasihan sama ibunya. Tatapan orang-orang itu… kayak bikin dia ngerasa lebih salah daripada keadaan sebenarnya.”
Senyum tipis muncul di wajah Abii. “Itu karena manusia sering ngerasa punya hak untuk menilai, meskipun cuma lewat pandangan mata atau gumaman singkat. Tapi, kita gak pernah tahu isi cerita penuh di balik seseorang.”
“Bii,” Niskala membuka suara lagi, menoleh sebentar pada Abii yang sedang menatap rel dengan pikiran entah ke mana. “Kenapa ya manusia cenderung terganggu sama komentar orang lain?”
Abii tersenyum kecil, menaruh kedua tangannya di saku jaket. “Karena manusia itu rapuh, Kal. Dan rapuhnya manusia itu aneh, kadang lebih percaya sama suara dari luar daripada suara hati sendiri.”
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
CERPEN: Kota masa depan
CERPEN: Beludru merah terang itu tidak lagi bercahaya
CERPEN: Negeri di atas meja siap saji
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center