GENMILENIAL.ID — Diskusi sastra dan seni rupa bertajuk kajian semiotika dan feminis terhadap cerpen 'Perempuan yang Datang Ketika Hujan' karya Fileski digelar RuSa TerBang Project di I-Club Madiun, Sabtu, 14 Februari 2026.
Kegiatan ini menghadirkan seniman dan peneliti seni Shalihah Ramadhanita sebagai narasumber utama.
Forum tersebut menjadi ruang dialog terbuka antara seniman, akademisi, komunitas budaya, hingga masyarakat umum untuk membedah karya sastra secara kritis sekaligus memperkuat ekosistem kebudayaan lokal.
Ruang dialog seni dan sastra
Shalihah Ramadhanita merupakan seniman, peneliti, dan pengkaji seni yang berfokus pada kajian seni rupa, kuratorial, dan kritik budaya.
Ia menyelesaikan studi magister pengkajian seni pertunjukan dan seni rupa di Universitas Gadjah Mada, dengan minat kajian meliputi semiotika, kritik seni, serta perspektif feminis dalam studi visual dan sastra.
Dalam forum tersebut, peserta tidak hanya mendengarkan pemaparan analisis, tetapi juga terlibat aktif dalam sesi tanya jawab dan pertukaran gagasan.
Format bedah karya dan dialog interaktif membuat diskusi berlangsung dinamis dan reflektif.
Baca Juga: Super Air Jet tujuan Denpasar diduga delay 5 jam, penumpang keluhkan minimnya penjelasan
Kegiatan ini juga menjadi perjumpaan penting antara komunitas seni dan pemangku kepentingan kebudayaan lokal untuk membangun ruang intelektual yang lebih hidup di Madiun.
Hujan sebagai simbol dan mitos
Dalam pemaparannya, Shalihah menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes untuk membedah simbol hujan dalam cerpen Fileski.
Menurutnya, hujan tidak hanya hadir sebagai peristiwa alam, tetapi menjadi simbol kesedihan, kerinduan, dan kenangan.
Artikel Terkait
Bumi Manusia: Ketika pena menjadi senjata melawan penjajahan
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa
ESAI: Literasi dan aktivisme
ESAI: 'Sirisihin' Madiun berdialog seni rupa, ekosistem, dan kejujuran berkarya
ESAI: Kota Madiun menyibak tenunan kata yang dirindukan jiwa