Udara Pekanbaru siang itu lengket, seperti permen karet yang menempel di sandal. Di depan gerbang utama Universitas Raja Alam (URA), Ibu Senah, penjual es tebu, mengelus kerudungnya yang mulai lusuh.
Matanya menerawang ke gedung-gedung tinggi yang menjulang, memantulkan terik matahari bagai cermin raksasa.
"Bak tsunami, nak," gumamnya pada panci esnya yang kosong. "Adakah yang akan tersisa untuk anak cucuku nanti? Minyak habis, hutan pun ditebang. Tinggallah kami menghirup asap."
Baca Juga: Ahmad Dhani ungkap alasan unggah video kompilasi Maia Estianty: Bukan dendam, tapi bukti fitnah
Di pojok kampus, persis di bawah pohon trembesi yang dedaunannya selalu merindukan hujan, Raja Ali Haji, bukan pujangga besar itu, melainkan seorang mahasiswa filsafat tingkat akhir yang kebetulan bernama sama dan punya kecintaan pada pantun sedang melamun.
Pikirannya melayang-layang, membayangkan lirik puisi yang baru didengarnya pagi tadi dari grup WhatsApp 'Pujangga Kampus URA': Bumi terkikis, lautan merintih, tinggal sesal menggores perih.
"Entahlah," bisik Raja Ali Haji pada tupai yang sedang menggaruk-garuk dagunya di dahan. "Sulit menjawabnya. Keserakahan sudah bak tsunami."
Tupai itu mengangguk setuju, lalu menjatuhkan sebutir biji durian dari mulutnya. Raja Ali Haji bergidik. Bahkan tupai pun paham.
Tiba-tiba, Gedung Fakultas Ekonomi URA, yang dikenal paling angkuh dengan fasad kaca birunya, mulai bergetar. Bukan gempa bumi, melainkan… menguap. Ya, menguap.
Dari jendela-jendela tinggi, terlihat uap-uap ber aroma kopi luwak bercampur aroma uang. Seolah gedung itu baru bangun tidur setelah semalam suntuk menghitung angka-angka tak terbatas.
"Aduh, Dekan sudah bangun!" celetuk Mak Cik Leha, tukang sapu kampus, sambil mengibas-ngibaskan lidi sawah. "Mesti tu. Gedung Ekonomi memang cepat benar lapar duitnya."
Raja Ali Haji mengucek matanya. Absurd. Sangat absurd. Namun, di URA, keabsurdan sudah jadi mata kuliah wajib. Konon, beberapa dosen pun pernah terlihat mengobrol serius dengan tiang bendera.
Artikel Terkait
Perjalanan Sastra Indonesia, dari dulu hingga kini, seperti apa?
Punya satu program yang belum ditayangkan, Netflix beri kode bakal ada film dari novel romantis best seller yang akan dibintangi Meghan Markle
Sinopsis novel 'Sang Tokoh' karya Wina Armada Sukardi
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
CERPEN: Opera absurd
CERPEN: Kota masa depan