CERPEN: Pelangi purba di langit Melayu

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 10 Juli 2025 | 22:21 WIB
Ilustrasi - Pelangi purba di langit Melayu
Ilustrasi - Pelangi purba di langit Melayu

 

Udara Pekanbaru siang itu lengket, seperti permen karet yang menempel di sandal. Di depan gerbang utama Universitas Raja Alam (URA), Ibu Senah, penjual es tebu, mengelus kerudungnya yang mulai lusuh.

Matanya menerawang ke gedung-gedung tinggi yang menjulang, memantulkan terik matahari bagai cermin raksasa.

"Bak tsunami, nak," gumamnya pada panci esnya yang kosong. "Adakah yang akan tersisa untuk anak cucuku nanti? Minyak habis, hutan pun ditebang. Tinggallah kami menghirup asap."

Baca Juga: Ahmad Dhani ungkap alasan unggah video kompilasi Maia Estianty: Bukan dendam, tapi bukti fitnah

Di pojok kampus, persis di bawah pohon trembesi yang dedaunannya selalu merindukan hujan, Raja Ali Haji, bukan pujangga besar itu, melainkan seorang mahasiswa filsafat tingkat akhir yang kebetulan bernama sama dan punya kecintaan pada pantun sedang melamun.

Pikirannya melayang-layang, membayangkan lirik puisi yang baru didengarnya pagi tadi dari grup WhatsApp 'Pujangga Kampus URA': Bumi terkikis, lautan merintih, tinggal sesal menggores perih.

"Entahlah," bisik Raja Ali Haji pada tupai yang sedang menggaruk-garuk dagunya di dahan. "Sulit menjawabnya. Keserakahan sudah bak tsunami."

Tupai itu mengangguk setuju, lalu menjatuhkan sebutir biji durian dari mulutnya. Raja Ali Haji bergidik. Bahkan tupai pun paham.

Baca Juga: Menteri Trenggono usul tambah anggaran KKP jadi Rp26,71 triliun untuk bangun 500 Kampung Nelayan dan tambak garam Pantura

Tiba-tiba, Gedung Fakultas Ekonomi URA, yang dikenal paling angkuh dengan fasad kaca birunya, mulai bergetar. Bukan gempa bumi, melainkan… menguap. Ya, menguap.

Dari jendela-jendela tinggi, terlihat uap-uap ber aroma kopi luwak bercampur aroma uang. Seolah gedung itu baru bangun tidur setelah semalam suntuk menghitung angka-angka tak terbatas.

"Aduh, Dekan sudah bangun!" celetuk Mak Cik Leha, tukang sapu kampus, sambil mengibas-ngibaskan lidi sawah. "Mesti tu. Gedung Ekonomi memang cepat benar lapar duitnya."

Raja Ali Haji mengucek matanya. Absurd. Sangat absurd. Namun, di URA, keabsurdan sudah jadi mata kuliah wajib. Konon, beberapa dosen pun pernah terlihat mengobrol serius dengan tiang bendera.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X