Aktivis lingkungan Subang–Garut soroti kerusakan alam dan Blok Paseh, desak pemerintah ambil sikap tegas

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 27 Desember 2025 | 23:26 WIB
Diskusi terbuka puluhan aktivis lingkungan dari Kabupaten Subang dan Kabupaten Garut, Sabtu 27 Desember 2025
Diskusi terbuka puluhan aktivis lingkungan dari Kabupaten Subang dan Kabupaten Garut, Sabtu 27 Desember 2025

GENMILENIAL.ID — Puluhan aktivis lingkungan dari Kabupaten Subang dan Kabupaten Garut menggelar diskusi terbuka membahas berbagai isu lingkungan yang kian menjadi sorotan publik, seiring meningkatnya kasus kerusakan alam baik di tingkat nasional maupun lokal.

Diskusi tersebut berlangsung di Borneo Kopi, Jalan P. Kalimantan No.7, Cikalapa, Pasirkareumbi, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada Sabtu, 27 Desember 2025.

Dalam forum tersebut, para aktivis menyuarakan kegelisahan mereka terhadap maraknya pembalakan liar, penggundulan hutan, serta aktivitas yang dinilai berpotensi merusak ekosistem.

Mereka menilai, upaya konservasi harus segera diperkuat sebagai langkah preventif untuk mencegah bencana alam yang lebih luas di masa mendatang.

Baca Juga: Menunggu bantuan air bersih, warga Tamiang Hulu bertahan gunakan air sisa banjir untuk kebutuhan sehari-hari

Bencana di Sumatera jadi alarm keras bagi Jawa Barat

Kasus banjir bandang dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat disebut menjadi peringatan serius bagi seluruh wilayah di Indonesia, termasuk Provinsi Jawa Barat.

Para aktivis menilai kondisi geografis Subang dan Garut yang memiliki kawasan hulu dan daerah resapan air membuat kedua wilayah tersebut rentan terdampak jika kerusakan lingkungan terus dibiarkan.

Diskusi tersebut juga menyoroti bahwa bencana alam di Sumatera menjadi alarm keras agar kerusakan serupa tidak terjadi di wilayah Subang dan Garut.

Dorongan konservasi dan gagasan hutan lembur

Tokoh masyarakat Subang sekaligus Ketua Forum BUMDES Subang, Urip Soeprianto atau akrab disapa Bos Urip, menekankan bahwa isu konservasi adalah tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah tetapi juga masyarakat desa.

Baca Juga: Dapat bantuan via helikopter, warga Gayo Lues justru beri durian dan manggis untuk TNI

“Isu konservasi dan lingkungan ini menjadi perhatian bersama. Insya Allah nanti di Desa Sidajaya, lembur Cigarukgak, kami akan coba menata hutan yang ada. Kalau di Kota Subang ada hutan kota, nanti di lembur Cigarukgak akan ada hutan lembur,” ujar Bos Urip.

Menurutnya, penataan hutan berbasis desa dapat menjadi salah satu upaya konkret menjaga keseimbangan alam sekaligus melibatkan masyarakat secara langsung.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X