Baca Juga: Ramadan di tengah pemulihan banjir, warga Aceh Tamiang harap dukungan pangan
Manusia bukan pusat eksploitasi, melainkan pusat pemeliharaan. Dalam kerangka ini, kebahagiaan tidak ditemukan dalam akumulasi, tetapi dalam kontribusi.
Viktor Frankl, seorang psikiater eksistensialis, pernah berkata, “Kebahagiaan tidak dapat dikejar; ia harus muncul sebagai efek samping dari dedikasi kepada tujuan yang lebih besar dari diri sendiri.”
Ketika hidup hanya berputar pada kepentingan diri, ruang batin menyempit. Namun ketika hidup diarahkan untuk memberi makna bagi yang lain, jiwa menemukan keluasan.
Maka, krisis yang kita hadapi bukan semata krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis makna. Kita membutuhkan rekonstruksi mental kolektif.
Baca Juga: Siswa SMPN 48 Sa Ate Gaikiu NTT belajar di kelas bambu rusak, video kondisi sekolah viral di medsos
Diskusi-diskusi publik harus dihidupkan kembali, bukan sebagai forum formalitas, tetapi sebagai ruang perjumpaan gagasan dan hati.
Masyarakat perlu duduk bersama, mendengar, dan saling mengakui kerentanan. Tanpa dialog, prasangka tumbuh liar. Tanpa perjumpaan, empati mengering.
Dalam konteks kontemporer yang dibanjiri media sosial, keberanian untuk kembali pada percakapan tatap muka menjadi tindakan nyata yang signifikan.
Kita perlu membangun kembali budaya saling memberi rasa aman dan nyaman dalam hidup bersama. Rasa aman bukan hanya soal keamanan fisik, tetapi keamanan psikologis, merasa dihargai, didengar, dan diperlakukan adil.
Baca Juga: Dukung peran pers, IFG gelar pameran foto jurnalistik nasional di Jakarta
Kritik terhadap materialisme bukan berarti menolak kemajuan ekonomi. Ia adalah seruan untuk menempatkan materi pada posisi yang proporsional.
Ekonomi harus menjadi sarana, bukan tujuan akhir. Negara harus menjadi ruang pelayanan, bukan panggung pamer kekuasaan. Keluarga harus menjadi sekolah kasih sayang, bukan sekadar tempat tinggal bersama. Sekolah harus menjadi taman jiwa, bukan pabrik nilai angka.
Pertanyaan yang tersisa bagi kita adalah beranikah kita memulai dari diri sendiri? Apakah kita masih sanggup menatap mata orang terdekat tanpa terganggu notifikasi?
Apakah pemimpin berani berbicara dengan bahasa yang jujur, bukan sekadar bahasa aman secara politik? Apakah rakyat bersedia membangun solidaritas, bukan hanya mengeluh dalam sunyi?
Artikel Terkait
Teater dalam arus peradaban modern, bagaimana kesenian ini bisa bertahan?
Menelusuri jejak sejarah, ini 6 kota tua di dunia dengan peradaban maju di masa lalu
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa