Baca Juga: Kasus ibu bunuh anak di Subang, Kasat Reskrim tegaskan tak ada unsur KDRT
“Manusia adalah makhluk yang secara kodrati hidup dalam polis,” tulisnya.
Polis di sini bukan sekadar negara, melainkan ruang kebersamaan yang hidup. Tanpa kebersamaan yang berlandaskan kebajikan, manusia kehilangan konteks untuk bertumbuh.
Keretakan hati ini juga terasa dalam relasi antara rakyat dan pemerintah. Ada jarak emosional yang menganga. Rakyat merasa tidak memiliki ikatan batin dengan pemimpinnya.
Ketika kepercayaan menguap, daya juang pun melemah. Bahasa pemimpin terdengar formal dan legalistik, tetapi kehilangan daya sentuh. Ia terdengar seperti pernyataan pers, bukan seperti suara nurani.
Baca Juga: Ibu bunuh anak 6 tahun di Subang, emosi usai cekcok dengan suami jadi motif sementara
Dalam tradisi klasik Islam, Al-Farabi menyebut pemimpin ideal sebagai al-ra’is al-fadil, pemimpin utama yang memimpin bukan hanya dengan regulasi, tetapi dengan kebijaksanaan dan keteladanan moral. Kekuasaan tidak sekadar administrasi, melainkan amanah etis.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menegaskan bahwa kekuasaan yang bertahan adalah kekuasaan yang bertumpu pada asabiyyah, solidaritas sosial yang hidup. Tanpa solidaritas, negara akan rapuh oleh kerakusan internalnya sendiri.
Hubungan yang adil antara penguasa dan rakyat bukanlah relasi paternalistik, melainkan relasi partisipatif. Rakyat pada dasarnya siap menanggung kesulitan, asalkan kesulitan itu dipikul bersama.
Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat sanggup bertahan dalam krisis ketika merasakan keadilan distribusi beban. Ketimpangan yang ekstrem bukan hanya masalah ekonomi, melainkan masalah psikologis dan moral.
Ketika pejabat yang mengatur regulasi hidup dalam kemewahan yang kontras dengan rakyat pembayar pajak, yang terkoyak bukan hanya rasa keadilan, tetapi juga rasa memiliki terhadap negara.
Montesquieu pernah menulis, “Ketika kebajikan hilang, republik runtuh.” Kebajikan di sini bukan moralitas privat semata, melainkan integritas publik. Kerakusan dan keserakahan adalah racun sistemik. Ia merusak kepercayaan, memicu sinisme, dan melahirkan budaya saling curiga.
Dalam masyarakat yang dipenuhi kecurigaan, kolaborasi menjadi mustahil.
Kang mas ustad sempat mengatakan, bahwa manusia sejatinya diciptakan untuk menjadi rahmat bagi sekitarnya. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung visi antropologis yang kuat.
Artikel Terkait
Teater dalam arus peradaban modern, bagaimana kesenian ini bisa bertahan?
Menelusuri jejak sejarah, ini 6 kota tua di dunia dengan peradaban maju di masa lalu
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer
ESAI: Politik, sastra, dan peradaban 'ketika kata menjadi jalan merdeka'
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa