ESAI: Sebuah upaya mengembalikan hati ke pusat peradaban

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 20 Februari 2026 | 18:12 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: Kasus ibu bunuh anak di Subang, Kasat Reskrim tegaskan tak ada unsur KDRT

“Manusia adalah makhluk yang secara kodrati hidup dalam polis,” tulisnya.

Polis di sini bukan sekadar negara, melainkan ruang kebersamaan yang hidup. Tanpa kebersamaan yang berlandaskan kebajikan, manusia kehilangan konteks untuk bertumbuh.

Keretakan hati ini juga terasa dalam relasi antara rakyat dan pemerintah. Ada jarak emosional yang menganga. Rakyat merasa tidak memiliki ikatan batin dengan pemimpinnya.

Ketika kepercayaan menguap, daya juang pun melemah. Bahasa pemimpin terdengar formal dan legalistik, tetapi kehilangan daya sentuh. Ia terdengar seperti pernyataan pers, bukan seperti suara nurani.

Baca Juga: Ibu bunuh anak 6 tahun di Subang, emosi usai cekcok dengan suami jadi motif sementara

Dalam tradisi klasik Islam, Al-Farabi menyebut pemimpin ideal sebagai al-ra’is al-fadil, pemimpin utama yang memimpin bukan hanya dengan regulasi, tetapi dengan kebijaksanaan dan keteladanan moral. Kekuasaan tidak sekadar administrasi, melainkan amanah etis.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menegaskan bahwa kekuasaan yang bertahan adalah kekuasaan yang bertumpu pada asabiyyah, solidaritas sosial yang hidup. Tanpa solidaritas, negara akan rapuh oleh kerakusan internalnya sendiri.

Hubungan yang adil antara penguasa dan rakyat bukanlah relasi paternalistik, melainkan relasi partisipatif. Rakyat pada dasarnya siap menanggung kesulitan, asalkan kesulitan itu dipikul bersama.

Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat sanggup bertahan dalam krisis ketika merasakan keadilan distribusi beban. Ketimpangan yang ekstrem bukan hanya masalah ekonomi, melainkan masalah psikologis dan moral.

Baca Juga: Anak SD di Tolikara Papua harus tunggu pesawat melintas demi berangkat sekolah, videonya jadi sorotan

Ketika pejabat yang mengatur regulasi hidup dalam kemewahan yang kontras dengan rakyat pembayar pajak, yang terkoyak bukan hanya rasa keadilan, tetapi juga rasa memiliki terhadap negara.

Montesquieu pernah menulis, “Ketika kebajikan hilang, republik runtuh.” Kebajikan di sini bukan moralitas privat semata, melainkan integritas publik. Kerakusan dan keserakahan adalah racun sistemik. Ia merusak kepercayaan, memicu sinisme, dan melahirkan budaya saling curiga.

Dalam masyarakat yang dipenuhi kecurigaan, kolaborasi menjadi mustahil.

Kang mas ustad sempat mengatakan, bahwa manusia sejatinya diciptakan untuk menjadi rahmat bagi sekitarnya. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung visi antropologis yang kuat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X