ESAI: Mencintai Indonesia dan patriotisme warga negara

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 17 Agustus 2025 | 14:15 WIB
Rudi Haryono, Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA)
Rudi Haryono, Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA)

Baca Juga: IFG meriahkan HUT ke-80 RI, rayakan bersama rakyat di Cibubur, Maros, dan Cilincing

Penulis begitu terinspirasi dengan sebuah perkataan (qoul) yang mengatakan bahwa mencintai tanah air sebagian dari iman.

Betapa mencintai negara merupakan sebuah bukti keimanan warga negara terhadap tanah airnya.

Patologi Sosial Nationalisme dan Patriotisme
Sebagai sebuah unit kesatuan masyarakat terbesar (the biggest community) maka Indonesia hadir dan eksis dengan dinamika gejolak sosial, historis, demografis dan tentu saja politis.

Dalam perspektif yang lebih sempit, kemerdekaan Indonesia yang diraih dengan strategi pergerakan (movement/organization), perang (war) dan diplomasi.

Baca Juga: Pertarungan tanggal kemerdekaan: Dari rencana 24 Agustus hingga lahirnya 17 Agustus 1945

Kemerdekaan Indonesia yang sudah dinikmati selama 80 tahun tentu saja belum dirasakan memuaskan dan memenuhi harapan masyarakat sesuai dengan cita-cita atau tujuan negara Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

Mencintai Indonesia oleh rakyat Indonesia bukannya tanpa tantangan yang berat.

Dalam prosesnya maka tentu akan ditemui penyakit (patologi) yang akan mereduksi atau menggerogoti kepercayaan (trust) dan cinta (love) warga negara terhadap negaranya.

Menurut Ficek (2021) patriotisme rakyat di sebuah negara sangat penting. Hal tersebut dikarenakan nilai (value) jiwa patriotisme untuk warga negara yang saat ini hidup dan berwarga negara dan juga untuk warga negara atau generasi masa yang akan datang.

Baca Juga: Semarak pawai obor HUT ke-80 RI di Subang, Bupati Kang Rey lepas ratusan peserta

Rasa cinta terhadap bangsa dan negara akan membentuk identitas negara yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap sejauh mana warga negara atau rakyat mau berkorban dan memiliki solidaritas dalam membangun bangsa dan menegakan hukum.

Mengapa kita saat ini begitu menghargai dan memberikan rasa hormat (respect) terhadap para pahlawan yang telah gugur di medan perang dan perjuangan.

Para pahlwan rela, tulus dan tanpa pamrih mengorbankan seluruh jiwa dan raganya untuk kemerdekaan Indonesia.

Sebagai warga negara yang saat ini menikmati udara kebebasan dan kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain, maka tentu saat ini kita harus juga mewariskan semangat cinta tanah air kepada generasi masa yang akan datang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X