ESAI: Mencintai Indonesia dan patriotisme warga negara

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 17 Agustus 2025 | 14:15 WIB
Rudi Haryono, Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA)
Rudi Haryono, Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA)

Alhamdulillah, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai berusia 80 tahun tahun 2025.

Nama atau terminologi 'Indonesia' berasal dari seorang etnolog Jerman bernama Adolf Bastian pada tahun 1884 dalam bukunya, Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels.

Kemerdekaan Indonesia diraih dengan penuh keringat, darah, nyawa, raga, harta dan tenaga dari pahlawan pergerakan, kemerdekaan, dan revolusi.

Apa motivasi tertinggi sehingga Indonesia dapat meraih kemerdekaannya? Jawabannya adalah cinta (love).

Baca Juga: Viral, Istana imbau warga hentikan aktivitas 3 menit saat HUT RI ke-80

Kecintaan terhadap tanah air, bangsa dan negara adalah kunci dari dari kemerdekaan yang kita raih.

Kecintaan terhadap tanah air atau nasionalisme merupakan akar dari seluruh perjuangan rakyat Indonesia baik di masa pergerakan, kemerdekaan dan revolusi.

Dalam hidup ini ada tiga cinta yang sejatinya harus kita tanamkan. Pertama cinta terhadap orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan kita (family), cinta terhadap guru kita yang telah mendidik secara formal (school) dan cinta terhadap tempat atau lingkungan kita dilahirkan dan dibesarkan (homeland).

Dalam konteks bernegara (state) maka sebagai warga negara kita semua dilahirkan di tanah air Indonesia atau warga negara Indonesia. Mencintai tanah air atau secara singkatnya dimaknai sebagai sebuah patriotisme.

Baca Juga: Motif sakit hati, polisi ungkap kasus pembunuhan di Subang dalam 1x24 jam

Mencintai Indonesia sebagai sebuah tanah kelahiran (homeland) adalah sebuah kewajiban (duty) bagi warga negaranya.

Di tengah tengah dinamika situasi politik, sosial, budaya, ekonomi dan pertahanan keamanan yang semakin dinamis maka mencintai Indonesia harus terus ditumbuhkan di tengah tengah banyak kekecewaan terhadap realitas penegakan hukum yang belum optimal, korupsi yang masih menggurita dan menjajah mental beberapa kaum elit di jajaran pemerintahan dan birokrasi.

Mencintai Indonesia juga ditantang dengan kecemburuan terhadap disparitas atau gap yang masih menganga antara orang kaya (the have), konglomerat, elit dan pola hidup pamer (flexing) yang diekspose oleh beberapa public figure.

Namun demikian jangan lelah untuk terus mencintai Indonesia apa adanya dan terus menumbuhkan rasa cinta terhadap Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X