ESAI: Bicaralah sesuai disiplin ilmu

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Rabu, 13 Agustus 2025 | 11:02 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Di era media sosial seperti sekarang, setiap orang memiliki panggung. Panggung itu tak berbatas pangkat, jabatan, atau latar belakang pendidikan.

Siapa saja bisa bicara, kapan saja, di mana saja, tentang apa saja. Sayangnya, 'tentang apa saja' sering kali membuat batas kewarasan diskusi menjadi kabur.

Banyak orang yang berbicara di luar kapasitas keilmuan dan pengalamannya, terkadang bahkan dengan percaya diri yang luar biasa.

Fenomena ini melahirkan apa yang disebut overconfidence bias, rasa percaya diri berlebihan untuk membahas topik yang sebenarnya tidak dikuasai.

Baca Juga: Sir Arthur Conan Doyle, pencipta sosok detektif jenius yang tak lekang oleh waktu

Misalnya, seorang yang berlatar belakang teknologi informasi tiba-tiba merasa perlu memberikan ceramah mendalam tentang kedokteran, atau lulusan ilmu sosial memberikan resep ekonomi makro seolah mereka adalah ekonom Bank Dunia.

Masalahnya bukan pada minat belajar lintas bidang itu justru baik. Masalah muncul ketika opini yang dibungkus seolah fakta ini dibagikan tanpa filter, apalagi di ruang publik yang sangat mudah mempengaruhi orang lain.

Apalagi jika dibumbui dengan gaya meyakinkan, padahal dasarnya lemah atau bahkan keliru.

Baca Juga: Dari kamar sempit ke taipan cat dunia, Goh Cheng Liang wafat di usia 98 tahun

Mengapa bicara sesuai disiplin ilmu itu penting?

Pertama, setiap bidang ilmu memiliki metodologi, konsep, dan kerangka berpikir yang khas.

Dokter memahami gejala dan diagnosis berdasarkan kajian medis bertahun-tahun, sama seperti insinyur yang menghitung kekuatan jembatan berdasarkan ilmu teknik, bukan sekadar perasaan.

Jika metodologi ini diabaikan, kita berisiko menyebarkan informasi yang salah dan dalam beberapa kasus, bisa berakibat fatal.

Kedua, berbicara sesuai disiplin ilmu adalah bentuk integritas intelektual. Ini mengakui bahwa pengetahuan kita terbatas dan bahwa ada orang lain yang lebih memahami topik tertentu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X