Di era media sosial seperti sekarang, setiap orang memiliki panggung. Panggung itu tak berbatas pangkat, jabatan, atau latar belakang pendidikan.
Siapa saja bisa bicara, kapan saja, di mana saja, tentang apa saja. Sayangnya, 'tentang apa saja' sering kali membuat batas kewarasan diskusi menjadi kabur.
Banyak orang yang berbicara di luar kapasitas keilmuan dan pengalamannya, terkadang bahkan dengan percaya diri yang luar biasa.
Fenomena ini melahirkan apa yang disebut overconfidence bias, rasa percaya diri berlebihan untuk membahas topik yang sebenarnya tidak dikuasai.
Baca Juga: Sir Arthur Conan Doyle, pencipta sosok detektif jenius yang tak lekang oleh waktu
Misalnya, seorang yang berlatar belakang teknologi informasi tiba-tiba merasa perlu memberikan ceramah mendalam tentang kedokteran, atau lulusan ilmu sosial memberikan resep ekonomi makro seolah mereka adalah ekonom Bank Dunia.
Masalahnya bukan pada minat belajar lintas bidang itu justru baik. Masalah muncul ketika opini yang dibungkus seolah fakta ini dibagikan tanpa filter, apalagi di ruang publik yang sangat mudah mempengaruhi orang lain.
Apalagi jika dibumbui dengan gaya meyakinkan, padahal dasarnya lemah atau bahkan keliru.
Baca Juga: Dari kamar sempit ke taipan cat dunia, Goh Cheng Liang wafat di usia 98 tahun
Mengapa bicara sesuai disiplin ilmu itu penting?
Pertama, setiap bidang ilmu memiliki metodologi, konsep, dan kerangka berpikir yang khas.
Dokter memahami gejala dan diagnosis berdasarkan kajian medis bertahun-tahun, sama seperti insinyur yang menghitung kekuatan jembatan berdasarkan ilmu teknik, bukan sekadar perasaan.
Jika metodologi ini diabaikan, kita berisiko menyebarkan informasi yang salah dan dalam beberapa kasus, bisa berakibat fatal.
Kedua, berbicara sesuai disiplin ilmu adalah bentuk integritas intelektual. Ini mengakui bahwa pengetahuan kita terbatas dan bahwa ada orang lain yang lebih memahami topik tertentu.
Artikel Terkait
ESAI: Aktivis jangan berkhianat pada kepentingan publik
Timnas Putri gagal ke Piala Asia 2026, Erick Thohir: Publik harus sabar, bangun tim perlu waktu
Bupati Subang teken kesepakatan lintas instansi: Tak ada lagi warga 'dipingpong' urus layanan publik
Gebrakan keterbukaan informasi: Kang Rey kumpulkan admin medsos OPD, dorong respons cepat dan profesional ke publik
Peluncuran Paspor Merah Putih resmi ditunda, Imigrasi ungkap alasan dan evaluasi publik
Dukung keterbukaan informasi publik, Kapolres Subang ajak media perkuat sinergi
ESAI: Ketika negara lebih tertarik rekening nganggur dibanding pengangguran