Sir Arthur Conan Doyle, pencipta sosok detektif jenius yang tak lekang oleh waktu

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Selasa, 12 Agustus 2025 | 23:54 WIB
Sir Arthur Conan Doyle, penulis buku detektif terbaik sepanjang masa berjudul 'Sherlock Holmes' (X.com/BoylanRoger)
Sir Arthur Conan Doyle, penulis buku detektif terbaik sepanjang masa berjudul 'Sherlock Holmes' (X.com/BoylanRoger)

GENMILENIAL.ID – Penulis buku terkemuka di dunia, Sir Arthur Conan Doyle, selalu identik dengan sosok detektif cerdas nan jenius bernama Sherlock Holmes.

Karakter yang ia ciptakan lebih dari satu abad yang lalu itu tetap hidup di hati para pembacanya hingga hari ini, bahkan diadaptasi ke berbagai medium modern.

Selain Sherlock Holmes, Doyle menulis beragam karya, mulai dari novel fiksi, non-fiksi, hingga kumpulan puisi.

Beberapa karyanya yang terkenal di luar Holmes antara lain The Mystery of Cloomber (1889), The Stark Munro Letters (1895), dan The Great Boer War (1900).

Baca Juga: Dari kamar sempit ke taipan cat dunia, Goh Cheng Liang wafat di usia 98 tahun

Karya-karya ini menunjukkan kemampuannya meramu kisah misteri yang membuat pembaca berpikir keras, sekaligus menulis narasi sejarah yang penuh nuansa.

Salah satu kutipan Doyle yang paling dikenal berbunyi:

"When you have eliminated all which is impossible, then whatever remains, however improbable, must be the truth"

(Ketika Anda telah menghilangkan semua hal yang tidak mungkin, maka apa pun yang tersisa, betapapun tidak mungkinnya, pastilah kebenaran).

Baca Juga: Kekeringan ancam 1.843 hektare sawah, Bupati Subang desak normalisasi saluran air sekunder

Doyle lahir dengan nama lengkap Sir Arthur Ignatius Conan Doyle pada 22 Mei 1859 di Edinburgh, Skotlandia.

Masa kecilnya diwarnai kecintaannya pada seni dan sastra, meski ia awalnya menempuh pendidikan di bidang kedokteran.

Ia belajar di sekolah Jesuit di Lancashire selama tujuh tahun, lalu sempat setahun belajar di Feldkirch, Austria, sebelum kembali ke Edinburgh untuk melanjutkan studi kedokteran.

Pengabdian Doyle tak hanya di dunia sastra. Pada 1902, ia dianugerahi gelar bangsawan 'Sir' berkat jasanya di bidang kemanusiaan, termasuk kontribusinya di rumah sakit Bloemfontein, Afrika Selatan, saat Perang Boer.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X