ESAI: Bicaralah sesuai disiplin ilmu

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Rabu, 13 Agustus 2025 | 11:02 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Baca Juga: Kekeringan ancam 1.843 hektare sawah, Bupati Subang desak normalisasi saluran air sekunder

Sikap ini membangun rasa hormat dalam diskusi, mengurangi debat kusir, dan mendorong kolaborasi yang lebih sehat.

Ketiga, kita hidup di zaman information overload. Banjir informasi membuat masyarakat kesulitan membedakan antara opini pribadi dan fakta berbasis riset.

Jika setiap orang menahan diri untuk bicara hanya di ranah yang mereka kuasai, atau paling tidak mengakui keterbatasan pengetahuan mereka, maka kualitas percakapan publik akan meningkat.

Bukan berarti kita tidak boleh berdiskusi lintas bidang. Justru penting untuk bertanya, belajar, dan memperluas wawasan. Namun, ada perbedaan besar antara bertanya untuk memahami dan beropini seolah menguasai.

Baca Juga: Anggota DPRD Subang H. Anharudin serap aspirasi warga Pabuaran, dari peternakan domba hingga jalan kampung

Seorang bijak pernah berkata, “Diam itu emas, tetapi berbicara yang benar adalah berlian.”

Maka, sebelum kita berbicara, tanyakan pada diri sendiri “Apakah ini bidang yang saya kuasai? Apakah saya punya data dan dasar yang kuat? Apakah saya siap mempertanggungjawabkan pernyataan ini?”

Di tengah derasnya arus opini di dunia digital, bicara sesuai disiplin ilmu bukan hanya soal etika, tetapi juga tanggung jawab sosial.

Sebab, kata-kata kita bukan sekadar suara di udara, ia bisa menjadi petunjuk, atau justru penyesat, bagi orang lain.***

Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X