Baca Juga: Kekeringan ancam 1.843 hektare sawah, Bupati Subang desak normalisasi saluran air sekunder
Sikap ini membangun rasa hormat dalam diskusi, mengurangi debat kusir, dan mendorong kolaborasi yang lebih sehat.
Ketiga, kita hidup di zaman information overload. Banjir informasi membuat masyarakat kesulitan membedakan antara opini pribadi dan fakta berbasis riset.
Jika setiap orang menahan diri untuk bicara hanya di ranah yang mereka kuasai, atau paling tidak mengakui keterbatasan pengetahuan mereka, maka kualitas percakapan publik akan meningkat.
Bukan berarti kita tidak boleh berdiskusi lintas bidang. Justru penting untuk bertanya, belajar, dan memperluas wawasan. Namun, ada perbedaan besar antara bertanya untuk memahami dan beropini seolah menguasai.
Seorang bijak pernah berkata, “Diam itu emas, tetapi berbicara yang benar adalah berlian.”
Maka, sebelum kita berbicara, tanyakan pada diri sendiri “Apakah ini bidang yang saya kuasai? Apakah saya punya data dan dasar yang kuat? Apakah saya siap mempertanggungjawabkan pernyataan ini?”
Di tengah derasnya arus opini di dunia digital, bicara sesuai disiplin ilmu bukan hanya soal etika, tetapi juga tanggung jawab sosial.
Sebab, kata-kata kita bukan sekadar suara di udara, ia bisa menjadi petunjuk, atau justru penyesat, bagi orang lain.***
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta
Artikel Terkait
ESAI: Aktivis jangan berkhianat pada kepentingan publik
Timnas Putri gagal ke Piala Asia 2026, Erick Thohir: Publik harus sabar, bangun tim perlu waktu
Bupati Subang teken kesepakatan lintas instansi: Tak ada lagi warga 'dipingpong' urus layanan publik
Gebrakan keterbukaan informasi: Kang Rey kumpulkan admin medsos OPD, dorong respons cepat dan profesional ke publik
Peluncuran Paspor Merah Putih resmi ditunda, Imigrasi ungkap alasan dan evaluasi publik
Dukung keterbukaan informasi publik, Kapolres Subang ajak media perkuat sinergi
ESAI: Ketika negara lebih tertarik rekening nganggur dibanding pengangguran