ESAI: Aktivisme dan kesadaran intelektual, jejak panjang dari ruang akademik ke medan perubahan

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Kamis, 3 Juli 2025 | 03:56 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Dalam banyak hal, mereka adalah penjaga moral bangsa karena mereka tahu, dan karenanya tak boleh diam.

Namun, pengetahuan tanpa keberanian hanya akan jadi catatan kaki sejarah.

Baca Juga: Estafet komando Kodim Subang: Momentum jaga stabilitas dan perkuat kolaborasi lintas sektor

Karena itulah, ketika kesadaran akademik bertemu dengan rasa keadilan sosial, maka lahirlah aktivisme.

Antara etika dan tanggung jawab

Meski begitu, aktivisme intelektual tidak boleh kehilangan etika. Aktivisme bukan sekadar aksi emosional atau suara bising tanpa arah.

Ia harus bertumpu pada argumen yang logis, data yang sahih, dan tujuan yang jelas.

Kritik yang dilontarkan harus berdasar, bukan tuduhan semata. Inilah yang membedakan aktivis intelektual dengan agitator semu.

Seorang intelektual, seperti disebut Edward Said, memiliki tanggung jawab untuk bersuara, terutama saat suara mayoritas dibungkam.

Baca Juga: Disiplin dan tangguh! 50 pelajar Subang lulus pendidikan karakter, Kang Akur: Anak kita bukan nakal, tapi spesial

Tetapi ia juga harus siap dikritik, diuji, dan diluruskan. Aktivisme sejati tidak mengklaim kebenaran absolut, ia adalah bagian dari proses terus-menerus untuk mendekati keadilan.

Aktivisme hari ini: Dari jalanan ke jejaring

Di era digital, medan aktivisme tak lagi hanya di jalanan. Tulisan di media sosial, artikel jurnalistik, video edukatif, dan diskusi daring bisa menjadi bentuk baru dari aktivisme intelektual.

Namun prinsipnya tetap sama: keberanian untuk bersuara atas dasar pengetahuan dan nurani.

Kampus, forum ilmiah, dan komunitas membaca masih menjadi titik awal yang penting. Dari situlah generasi baru aktivis intelektual dilahirkan.

Mereka mungkin tak membawa spanduk, tapi membawa gagasan. Mereka mungkin tak selalu turun ke jalan, tapi pikirannya bisa mengguncang tatanan.

Baca Juga: Nadin Amizah dilamar Faishal Tanjung, momen haru dihadiri Vidi Aldiano dan Sheila Dara

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X