ESAI: Aktivis tanpa karya, ibarat obor tanpa api

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Selasa, 22 April 2025 | 18:54 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, menjadi aktivis saja tak cukup. Suara lantang, sikap kritis, bahkan semangat berkobar, semuanya akan kehilangan daya bila tak diiringi karya nyata.

Aktivisme bukan hanya tentang menolak atau menggugat. Ia juga tentang membangun, mencipta, dan menghadirkan solusi.

Maka, menjadi manusia produktif dan berdaya adalah jalan hidup yang mesti direngkuh, bukan sekadar pilihan.

Baca Juga: Dinyatakan terbukti selingkuh namun tanpa bukti konkret, Paula Verhoeven datangi Komisi Yudisial: Bisa saya pertanggungjawabkan hingga akhirat

Kita hidup di era di mana gagasan besar butuh pembuktian lewat karya. Menulis, membangun komunitas, membuat konten, menggagas gerakan sosial, mendirikan lembaga, semuanya adalah bentuk nyata dari energi aktivisme yang terarah.

Aktivis yang produktif adalah mereka yang tak hanya bicara tentang perubahan, tapi juga menghadirkan perubahan itu dalam bentuk yang bisa disentuh, dibaca, ditonton, atau bahkan diwariskan.

Berdaya bukan berarti selalu punya kuasa. Tapi setidaknya, punya kendali atas waktu, pikiran, dan potensi diri.

Seseorang yang berdaya tidak menunggu perubahan, ia menjadi bagian dari perubahan itu. Ia tidak mengeluh soal dunia yang gelap, karena ia memilih menjadi lilin yang menyala.

Baca Juga: Nego dagang RI ke AS: Indonesia siap tambah porsi di sektor energi demi tekan tarif 32 persen

Dan karya adalah nyala dari lilin itu.

Karya adalah bukti bahwa aktivisme bukan semata luapan emosi, melainkan bentuk tanggung jawab pada kehidupan.

Ia adalah warisan paling jujur yang bisa diberikan oleh siapa pun yang mencintai negerinya, komunitasnya, dan manusia sesamanya.

Menjadi produktif bukan berarti harus selalu sibuk. Tapi tahu arah. Tahu apa yang sedang dibangun. Tahu bahwa setiap langkah dan keputusan hari ini punya makna untuk esok.

Baca Juga: Animator film ‘Jumbo’ Ryan Adriandhy ceritakan fakta menarik di balik soundtrack 'Selalu Ada di Nadimu’

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X