Sebagian menyebut ini populisme baru. Yang lain menyebutnya mediatainment birokrasi. Tapi barangkali yang sedang kita saksikan adalah transformasi kekuasaan: dari yang berbicara di podium menjadi yang masuk ke ruang makan, bahkan ke tempat tidur anak-anak.
Seorang bocah berkata pada ibunya, "Aku mau makan, kalo nggak nanti dijemput Pak Dedi." Bukankah ini semacam 'mata yang tak pernah tidur'. Sebuah pengawasan yang tak kasatmata, tapi selalu terasa hadir?
Bukan dari polisi atau guru, melainkan dari layar gawai yang merekam KDM menasehati sekaligus 'mengancam'. Bahwa kalau tidak menurut orangtua, KDM sebagai 'Pak Dedi' akan menjemput anak-anak itu.
Tentu, tidak semua setuju.
Baca Juga: Soal TNI yang kini jaga kantor kejaksaan seluruh Indonesia, istana: Ini pengamanan, ini biasa
Beberapa menyebut ancaman barak TNI itu berlebihan, bahkan traumatik. LSM perlindungan anak angkat bicara. Komisioner KPAI mengingatkan bahwa "Pendisiplinan dengan rasa takut tidak sesuai dengan prinsip tumbuh kembang anak." Tapi di saat yang sama, ratusan komentar di TikTok berseru: "Kang Dedi, tolong datang ke rumah saya juga!"
Tak hanya soal kebijakannya. Isu keyakinan KDM pun disorot. Ia dianggap terlalu dekat dengan tradisi animisme dan ajaran-ajaran lokal. Ia kerap berdialog dengan alam, menyapa pohon tua, berbicara dengan sungai, atau merenung di makam-makam leluhur.
Sebagian netizen menyebutnya 'musyrik', sebagian lain menyebutnya sebagai bentuk sinkretisme Sunda Wiwitan yang menolak dikotomi kaku agama formal dan kearifan lokal.
Di titik ini, KDM memperlihatkan wajah lain dari Jawa Barat: yang modern tapi mistik, yang islami tapi spiritual, yang urban tapi sangat kampung. Di sinilah metafora politik KDM berdiri: ia seperti rumah panggung tua di lembah Cianjur: terbuat dari kayu warisan, tapi dilengkapi kamera CCTV.
Kebijakan KDM melarang pesta perpisahan sekolah dan tour luar kota juga menimbulkan debat. Banyak yang menyebutnya terlalu membatasi pengalaman masa muda. Tapi dalam pidatonya, ia mengatakan: "Anak tidak perlu pamer kebahagiaan di atas penderitaan orangtuanya."
Kebijakan-kebijakannya itu menampar realitas ekonomi yang getir. Sebab menurut BPS Provinsi Jawa Barat, hingga Februari 2025, sebanyak 55,89 persen dari total penduduk bekerja di Jawa Barat berada dalam sektor informal, yaitu sekitar 13,98 juta orang dari total 24,99 juta penduduk bekerja. Artinya, lebih dari separuh rakyat hidup tanpa perlindungan kerja yang layak, tanpa jaminan sosial, dan seringkali tanpa kepastian penghasilan.
Dalam lanskap seperti itu, pesta perpisahan sekolah dan study tour ke luar kota tak lagi terlihat sebagai momen kebahagiaan, melainkan ironi, yang justru menyakiti isi kantong para buruh harian, pedagang kaki lima dan rakyat miskin lainnya. KDM menyentilnya tanpa seminar. Ia langsung melarang.
Artikel Terkait
Viral Rafathar adukan Mama Gigi gegara malas mandi, Dedi Mulyadi: Dijemput ke barak militer!
Ingar masalah sampah di Jabar, Dedi Mulyadi kini minta solusi ke mantan Bupati Banyumas Achmad Husein
Selain pendidikan karakter di Barak TNI ala Dedi Mulyadi, kini siswa Jabar dilarang bawa HP ke sekolah
Gubernur Dedi Mulyadi tegaskan pentingnya ketertiban umum sebagai fondasi pembangunan Jawa Barat
Ramai siswa nakal ke barak TNI, KPAI justru sebut program Dedi Mulyadi itu belum ada standar baku
KPAI: 6,7 persen siswa di barak TNI ngaku tak tahu alasan ikuti program Gubernur Dedi Mulyadi
KPAI minta Dedi Mulyadi evaluasi program untuk siswa nakal, sebut peran ortu setelah anaknya pulang dari barak TNI