ESAI: Kang Dedi Mulyadi (KDM)

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 18 Mei 2025 | 07:09 WIB
Dikdik Sadikin (Penulis dan Akuntan)
Dikdik Sadikin (Penulis dan Akuntan)

Kang Dedi Mulyadi, atau lebih akrab disebut 'KDM', bukan sekadar politisi. Sebagai Gubernur Jawa Barat, ia performatif. Ia tak datang dari kasta langit kekuasaan. Ia bukan teknokrat dari kampus asing, bukan pula politisi turunan dengan silsilah bak pohon keluarga bangsawan.

Ia muncul dari riuh pasar rakyat, dari jalan-jalan kampung. Dan seperti banyak hal yang muncul dari bawah, ia mendobrak dari sisi yang tak terduga: media sosial.

Aksi KDM adalah fragmen narasi. Ia memanggil anak-anak yang bandel untuk dibina di barak tentara. Ia melarang study tour agar orangtua tak perlu menjual motor atau menggadaikan surat tanah.

Ia membongkar bangunan liar di daerah Puncak Bogor dan Cianjur yang sudah dianggap sebagai 'warisan ekonomi', tetapi justru menjadi beban ekologis.

Baca Juga: Kala Thom Haye pernah kasmaran, merasa bahagia meski sang pujaan hati salah panggil namanya

Mungkin karena itu, KDM menjadi semacam reality show yang tak pernah selesai tayang. Di TikTok, di YouTube, di reels Instagram, ia muncul seperti tokoh dalam epos rakyat: keras, blak-blakan, tetapi akrab.

Ia menegur sambil tertawa, mengancam sambil menggendong anak kecil, memeluk sambil membongkar rumah. Tapi inilah zaman di mana politik tak hanya ditonton. Ia juga dibagikan.

Sejak awal, terpilihnya KDM menjadi Gubernur Jawa Barat memang bukan didasarkan sekadar rekam jejaknya sebagai Bupati Purwakarta dan anggota DPR, tetapi juga dari pendekatannya yang akrab melalui media sosial.

Ia menyebutnya sebagai kebiasaan lama yang membuatnya bahagia: mendatangi rakyat kecil, menyapa anak-anak, bahkan memarahi remaja yang keluyuran saat jam belajar.

Baca Juga: Luna Maya bakal gelar resepsi di Jakarta, ungkap sebelumnya banyak sahabat yang tak diundang gegara jadwal mepet

Barangkali, inilah gaya baru kekuasaan di era algoritma: berpolitik sambil bertindak, dan bertindak sambil ditonton. Ia melakukan sesuatu yang nyata, tapi juga sengaja menampilkannya kepada publik sebagai pesan.

Namun KDM bukan hanya performatif dalam arti teatrikal. Dalam banyak hal, ia juga walks the talk: tidak sekadar berkata-kata, tetapi benar-benar turun tangan: menjemput, menegur, dan mendengar.

Dalam dunia politik yang sering menjauh dari kehidupan sehari-hari, ia hadir dengan bahasa yang dipahami banyak orang: bukan pidato, tapi teguran; bukan baliho, tapi video.

Dari hal itu, KDM dan pasangannya terpilih dengan dukungan publik sebesar 65 persen, jauh mengungguli calon lainnya (Data Litbang Kompas, November 2024).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X