ESAI: Kang Dedi Mulyadi (KDM)

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 18 Mei 2025 | 07:09 WIB
Dikdik Sadikin (Penulis dan Akuntan)
Dikdik Sadikin (Penulis dan Akuntan)

Sebagaimana halnya ayah yang tegas, KDM tampil bukan untuk disukai, tapi untuk ditaati. Ia tak menjanjikan reward, tapi warning. Ia tidak meninabobokan, tapi membangunkan. Dalam dunia politik yang serba basa-basi, barangkali KDM menjadi alternatif.

Dan ketika ia membongkar bangunan liar di kawasan Puncak, yang selama puluhan tahun menjadi simbol pembiaran negara, KDM seperti menegaskan kembali hakikat kekuasaan yang bergerak, bukan hanya menunggu laporan.

"Pemimpin bukan hanya mereka yang mampu mendengar suara rakyat, tetapi juga yang berani mengatakan hal yang tak ingin didengar," tulis Vclav Havel, mantan Presiden Ceko.

Namun, ada yang perlu dicatat: populisme yang terlalu bergantung pada satu figur mudah rapuh. Apa yang akan terjadi jika esok lusa KDM kalah dalam kontestasi atau kehilangan akses media?

Baca Juga: Mengaku capek 10 tahun lihat konflik sengketa tanah Atalarik Syach, Attila Turun tangan bayar Rp850 juta: Lumrah, kita bersaudara

Apa yang akan tersisa jika narasi hanya tinggal arsip TikTok dan bukan sistem?

KDM, seperti banyak pemimpin era algoritma, barangkali akan dikenang bukan sebagai pencipta kebijakan yang abadi, tapi sebagai aktor sosial yang menggugah kesadaran. Ia tidak menulis undang-undang, tetapi menanamkan rasa malu pada anak yang lupa mencium tangan ibunya.

Dan mungkin, yang tinggal dari kekuasaan bukanlah kebesaran, tetapi jejak di hati mereka yang dulu merasa didengar.

KDM, barangkali, sedang menulis jejak itu, dengan bahasa yang kasar tapi dikenang. Dengan metode yang kontroversial tapi membekas. Dan dengan gaya yang tak semua orang setuju, tapi tak ada yang bisa mengabaikan.

Dikdik Sadikin, Penulis dan akuntan dengan pengalaman lebih dari 38 tahun di birokrasi. Jabatan terakhirnya (sampai dengan 1 Maret 2025) adalah Direktur Pengawasan Bidang Pengembangan SDM dan Kebudayaan BPKP

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X