Mereka percaya bahwa pengetahuan dibentuk melalui interaksi sosial dan pengalaman, bukan dipaksakan dari luar.
Anak belajar dengan cara aktif, membangun makna sendiri, dan didorong untuk bereksplorasi.
Sementara itu, Jurgen Habermas melalui teori emansipatoris-nya menyatakan bahwa pendidikan harus mampu membuka ruang kesadaran kritis, memungkinkan peserta didik menyadari struktur ketidakadilan dan mendorong perubahan sosial secara rasional.
Pendidikan bukan sekadar transmisi pengetahuan, tetapi jalan menuju pembebasan sosial.
Di era digital seperti sekarang, pendidikan yang membebaskan juga berarti membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, serta memahami keberagaman perspektif.
Kita tidak bisa terus memaksakan satu kebenaran tunggal di tengah dunia yang semakin plural dan dinamis.
Maka, Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi panggilan untuk kembali ke akar: pendidikan sebagai ruang pembebasan, bukan penindasan.
Di sekolah, di rumah, dan di masyarakat, kita harus hadir bukan sebagai penguasa pengetahuan, tetapi sebagai fasilitator pertumbuhan manusia.
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) Jakarta
Artikel Terkait
Lokakarya 7 Festival Panen Hasil Belajar Pendidikan Guru Pengerak Angkatan 11 Kabupaten Subang sukses digelar di SMK 1 PGRI Subang
Dorong pendidikan berkualitas, Pj. Bupati serahkan bantuan mebelair ke SMPN 5 Subang
Mendikdasmen Abdul Mu’ti beri respon terkait penolakan MBG dari pelajar Papua, viral foto aksi damai lebih memilih pendidikan dibanding makan gratis
DKI Jakarta resmi menerapkan pendidikan gratis di 40 sekolah swasta gratis tahun Ini, ini syaratnya
Ingin tingkatkan kualitas pendidikan, Prabowo janji berikan TV besar ke tiap sekolah
ESAI : Wakaf produktif dan ketahanan finansial lembaga pendidikan
Wakil Bupati Subang serahkan SK Dewan Pendidikan periode 2025–2030