ESAI : Pendidikan itu membebaskan, bukan menindas

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Jumat, 2 Mei 2025 | 10:14 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Baca Juga: Yayasan Seniman 'Langgar Art' surati Bupati Ipuk Fiestiandani, minta penjelasan penutupan paksa minimarket di Banyuwangi

Mereka percaya bahwa pengetahuan dibentuk melalui interaksi sosial dan pengalaman, bukan dipaksakan dari luar. 

Anak belajar dengan cara aktif, membangun makna sendiri, dan didorong untuk bereksplorasi.

Sementara itu, Jurgen Habermas melalui teori emansipatoris-nya menyatakan bahwa pendidikan harus mampu membuka ruang kesadaran kritis, memungkinkan peserta didik menyadari struktur ketidakadilan dan mendorong perubahan sosial secara rasional. 

Pendidikan bukan sekadar transmisi pengetahuan, tetapi jalan menuju pembebasan sosial.

Baca Juga: Prabowo kaget drone bisa tabur benih 25 hektare sehari, petani di Jabar ini pernah keluhkan harga sewanya yang tinggi

Di era digital seperti sekarang, pendidikan yang membebaskan juga berarti membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, serta memahami keberagaman perspektif. 

Kita tidak bisa terus memaksakan satu kebenaran tunggal di tengah dunia yang semakin plural dan dinamis.

Maka, Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi panggilan untuk kembali ke akar: pendidikan sebagai ruang pembebasan, bukan penindasan. 

Di sekolah, di rumah, dan di masyarakat, kita harus hadir bukan sebagai penguasa pengetahuan, tetapi sebagai fasilitator pertumbuhan manusia.

Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) Jakarta

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X