Hari itu, saya bukan hanya sedang mengajar seni budaya di sebuah kelas, tetapi juga sedang berhadapan dengan satu dari sekian banyak pertanyaan mendasar yang terus bergema dalam dunia pendidikan: untuk apa kita bersekolah, jika pada akhirnya yang dianggap berhasil adalah mereka yang memiliki banyak harta kekayaan?
Aldiano, seorang siswa saya, menyuarakan kegelisahan yang sesungguhnya dimiliki banyak anak muda hari ini.
Dengan keberanian khas remaja yang belum terpolusi penuh oleh konformitas sosial, ia bertanya, mengapa guru yang ilmunya tinggi tidak hidup sekaya para selebriti dan pengusaha?
Baca Juga: Viral kocak warga Bogor minta Damkar tiup lilin bareng, gegara diputusin pacar saat ulang tahun
Pertanyaan itu, yang dalam struktur masyarakat modern tampak banal, sejatinya menyentuh lapisan terdalam dari persoalan nilai, identitas, dan jati diri bangsa.
Di sinilah saya mulai membawa kelas ke dalam ruang kontemplasi budaya, bukan sekadar untuk menjawab keingintahuan Aldiano, tetapi untuk menggugah kesadaran tentang siapa kita dalam lanskap peradaban yang kian kehilangan arah dalam mengukur makna hidup dan keberhasilan.
Saya jelaskan kepada mereka tentang sistem kasta pada awal peradaban—brahmana, ksatria, waisya, dan sudra—bukan sebagai legitimasi diskriminasi sosial, melainkan sebagai lensa metaforis untuk membaca kesadaran manusia.
Di masa ketika sistem ini lahir, kasta bukanlah warisan darah, tapi pencerminan dari tingkat kesadaran spiritual dan sosial.
Seorang sudra bukan karena miskin, melainkan karena sejak bangun tidur dan tidur lagi, hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.
Seorang waisya bukan karena mereka berdagang, tetapi karena pikirannya hanya memikirkan kepentingan kelompok dan keluarganya.
Seorang ksatria mengabdi untuk kemaslahatan masyarakat dan keadilan sosial bagi rakyatnya.
Sedangkan seorang brahmana—guru, akademisi, dan pengajar, pendeta, ulama—sejatinya mereka hanya menghidupi kehidupan demi pengabdian pada ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, tanpa ambisi kekayaan, jabatan, dan kekuasaan.
Artikel Terkait
Mendikdasmen Abdul Mu’ti beri respon terkait penolakan MBG dari pelajar Papua, viral foto aksi damai lebih memilih pendidikan dibanding makan gratis
Biaya UKT Perguruan Tinggi diperkirakan naik imbas efisiensi anggaran, Menkeu pastikan tidak akan ada dampak pada layanan pendidikan
DKI Jakarta resmi menerapkan pendidikan gratis di 40 sekolah swasta gratis tahun Ini, ini syaratnya
Ingin tingkatkan kualitas pendidikan, Prabowo janji berikan TV besar ke tiap sekolah
ESAI : Wakaf produktif dan ketahanan finansial lembaga pendidikan
Latar pendidikan Bupati Indramayu Lucky Hakim usai viral ketahuan liburan tanpa izin dulu dari Gubernur Jabar
Wakil Bupati Subang serahkan SK Dewan Pendidikan periode 2025–2030