ESAI: Hari pendidikan dan kesadaran kasta: Mencari letak jati diri

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 2 Mei 2025 | 09:45 WIB
Ilustrasi - seorang pendidik
Ilustrasi - seorang pendidik

Hari itu, saya bukan hanya sedang mengajar seni budaya di sebuah kelas, tetapi juga sedang berhadapan dengan satu dari sekian banyak pertanyaan mendasar yang terus bergema dalam dunia pendidikan: untuk apa kita bersekolah, jika pada akhirnya yang dianggap berhasil adalah mereka yang memiliki banyak harta kekayaan?

Aldiano, seorang siswa saya, menyuarakan kegelisahan yang sesungguhnya dimiliki banyak anak muda hari ini.

Dengan keberanian khas remaja yang belum terpolusi penuh oleh konformitas sosial, ia bertanya, mengapa guru yang ilmunya tinggi tidak hidup sekaya para selebriti dan pengusaha?

Baca Juga: Viral kocak warga Bogor minta Damkar tiup lilin bareng, gegara diputusin pacar saat ulang tahun

Pertanyaan itu, yang dalam struktur masyarakat modern tampak banal, sejatinya menyentuh lapisan terdalam dari persoalan nilai, identitas, dan jati diri bangsa.

Di sinilah saya mulai membawa kelas ke dalam ruang kontemplasi budaya, bukan sekadar untuk menjawab keingintahuan Aldiano, tetapi untuk menggugah kesadaran tentang siapa kita dalam lanskap peradaban yang kian kehilangan arah dalam mengukur makna hidup dan keberhasilan.

Saya jelaskan kepada mereka tentang sistem kasta pada awal peradaban—brahmana, ksatria, waisya, dan sudra—bukan sebagai legitimasi diskriminasi sosial, melainkan sebagai lensa metaforis untuk membaca kesadaran manusia.

Di masa ketika sistem ini lahir, kasta bukanlah warisan darah, tapi pencerminan dari tingkat kesadaran spiritual dan sosial.

Baca Juga: Yayasan Seniman 'Langgar Art' surati Bupati Ipuk Fiestiandani, minta penjelasan penutupan paksa minimarket di Banyuwangi

Seorang sudra bukan karena miskin, melainkan karena sejak bangun tidur dan tidur lagi, hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Seorang waisya bukan karena mereka berdagang, tetapi karena pikirannya hanya memikirkan kepentingan kelompok dan keluarganya.

Seorang ksatria mengabdi untuk kemaslahatan masyarakat dan keadilan sosial bagi rakyatnya.

Sedangkan seorang brahmana—guru, akademisi, dan pengajar, pendeta, ulama—sejatinya mereka hanya menghidupi kehidupan demi pengabdian pada ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, tanpa ambisi kekayaan, jabatan, dan kekuasaan.

Baca Juga: Prabowo kaget drone bisa tabur benih 25 hektare sehari, petani di Jabar ini pernah keluhkan harga sewanya yang tinggi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X