ESAI: Jurnalis, teman ngopi bukan lawan bertarung

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 26 April 2025 | 15:11 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Pernahkah kau bayangkan, di tengah hiruk-pikuk dunia, ada sosok yang selalu sibuk berpindah dari satu sudut ke sudut lain, bukan sekadar melihat, tapi memahami?

Itulah jurnalis. Mereka bukan hanya pencatat peristiwa, tapi juga pendengar setia cerita hidupmu.

Jurnalis itu seperti teman lama yang bisa kau ajak duduk santai di warung kopi pinggir jalan, di sudut kafe sederhana, atau di beranda rumahmu sendiri.

Mereka datang bukan membawa prasangka, melainkan rasa ingin tahu, secarik catatan, dan secangkir niat baik.

Baca Juga: Minta satu komando, Zulhas targetkan PAN tembus 4 besar di Pemilu 2029

Mungkin kau pernah merasa canggung saat bertemu jurnalis, berpikir mereka datang untuk mengintrogasi atau menyudutkan.

Tapi percayalah, jurnalis itu bukanlah lawan yang harus dilawan. Mereka adalah teman ngobrol yang seharusnya bisa kita ajak berbincang tentang apa saja.

Di balik kamera atau pena mereka, ada manusia yang ingin menyampaikan kebenaran.

Janganlah tegang saat bertemu jurnalis. Mereka tidak hadir untuk menghakimi atau mempermalukan.

Baca Juga: Respon Ahmad Dhani usai dilaporkan Rayen Pono soal dugaan penghinaan, sebut ada typo nama

Mereka hadir untuk mendengarkan, mengamati, dan membagikan cerita dengan tujuan menghubungkan manusia dengan manusia lainnya, kebenaran dengan nurani.

Jurnalis itu teman, bukan lawan bertarung.
Ia mencatat, bukan menghakimi.
Ia bertanya, bukan mengintimidasi.
Ia berbagi cerita, bukan membuka luka.

Sejak abad ke-17, saat surat kabar pertama lahir di Eropa, profesi jurnalis tumbuh dari kebutuhan dasar manusia: berbagi informasi, membangun kesadaran, memperjuangkan kebenaran.

Di era modern ini, peran itu semakin penting, di tengah gelombang informasi yang kadang membingungkan, menyesatkan, bahkan memecah belah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X