ESAI: Jurnalis, teman ngopi bukan lawan bertarung

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 26 April 2025 | 15:11 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Baca Juga: Netizen soroti pengakuan Paula Verhoeven tentang rekaman CCTV pada Hotman Paris: Ngapain ngobrol di kamar tamu?

Tanpa jurnalis, dunia akan menjadi ruang yang sunyi dari kisah-kisah kecil yang sebenarnya besar.

Mereka membawa suara mereka yang tak terdengar, mengungkapkan peristiwa yang kadang terlewatkan, dan menyampaikan pesan yang membawa perubahan.

Mereka memberi kita wawasan tentang dunia, bukan sekadar berita.

Maka, saat seorang jurnalis mengetuk pintu, jangan pikir mereka datang untuk mencari-cari kesalahan.

Baca Juga: Ditanya Hotman Paris soal bukti perselingkuhan, Paula Verhoeven blak-blakan ceritakan isi rekaman CCTV

Mereka datang untuk ngobrol, untuk mengobrolkan hal-hal sederhana yang kadang justru bermakna besar.

Seperti obrolan ringan saat kopi mengepul di pagi hari, atau diskusi santai di sore yang penuh angin.

Di tengah gempuran berita palsu dan hoaks di dunia maya, suara jurnalis yang jujur kini justru menjadi secangkir kopi hangat di tengah malam yang dingin, membawa kehangatan dan kesadaran.

Bayangkan jika tidak ada mereka:
Tak ada kabar tentang jalan berlubang yang akhirnya diperbaiki.
Tak ada suara tentang perjuangan petani kecil di desa terpencil.
Tak ada kisah tentang keteguhan anak muda membangun masa depan dari keterbatasan.

Baca Juga: Rayen Pono bongkar bukti chat hingga rekaman usai adukan Ahmad Dhani soal dugaan penghinaan

Dan siapa bilang bertemu jurnalis hanya soal wawancara serius?

Justru, dari secangkir kopi dan obrolan santai itulah kadang lahir ide-ide kolaborasi yang besar.

Kalau punya program, kegiatan sosial, komunitas kreatif, atau gagasan perubahan, kenapa tidak ajak jurnalis untuk ngobrol lebih jauh?

Siapa tahu, dari diskusi ringan itu, tercipta kemitraan yang memberi manfaat untuk lebih banyak orang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X