ESAI: Buzzer atau influencer bukanlah pers: Sebuah analisis

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Jumat, 18 April 2025 | 18:15 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Keberadaan buzzer dan influencer dalam ranah informasi publik dapat berdampak besar pada persepsi masyarakat. 

Dalam teori agenda setting, media berperan menentukan isu yang dianggap penting oleh publik. 

Baca Juga: Disebut setrum pemain sirkus yang Ingin kabur, Founder Oriental Circus Indonesia beri bantahan: kalau beneran, bisa meninggal

Jika peran ini diambil alih oleh buzzer atau influencer, masyarakat bisa saja mendapatkan informasi yang bias dan tidak berimbang.

Selain itu, dalam teori propaganda, buzzer sering digunakan untuk menggiring opini sesuai dengan kepentingan tertentu. 

Hal ini berbahaya jika informasi yang disebarkan tidak akurat atau dimanipulasi untuk kepentingan politik atau bisnis.

Meskipun buzzer dan influencer memiliki peran dalam penyebaran informasi, mereka bukan bagian dari pers. 

Baca Juga: Sosok Pendiri Taman Safari Indonesia yang dilaporkan Eks pemain Oriental Circus Indonesia kerap melakukan kekerasan ekstrem

Pers memiliki tanggung jawab moral dan etik untuk menyampaikan berita yang benar dan berimbang. 

Sementara itu, buzzer dan influencer lebih berorientasi pada kepentingan subjektif, yang sering kali mengabaikan prinsip-prinsip jurnalistik. 

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih kritis dalam mengonsumsi informasi dan memahami perbedaan antara pers yang sesungguhnya dan sekadar opini yang disebarkan oleh buzzer atau influencer.

Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X