ESAI : Mencintai ilmu, memperbaiki diri dan umat

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 6 Januari 2025 | 13:41 WIB
Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate
Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun, Ternate

Baca Juga: 3 Fakta kasus kekerasan yang dialami artis asal China Zhao Lusi, salah satunya kebiasaan memendam perasaan sendiri

Boleh dikata, semua tarikan nafasnya dimaksimalkan mengalir zikir dan doa untuk lebih mendekatkan hati pada Rabb yang kuasa.

Perbaikan diri harus dilanjutkan dengan perbaikan umat. Sebagai Muslim, kita diajarkan untuk peduli kepada Muslim lainnya sebagai bentuk ukhuwah islamiyah, sekaligus kita diajarkan untuk peduli pada selain umat Islam dalam kerangka ukhuwah basyariyah.

Kehendak untuk perbaikan itu dijelaskan kitab suci bahwa apa yang kita inginkan dari perbaikan umat semata-mata adalah ishlah atau perbaikan.

Kehadiran kolektivitas sosial seperti ormas NU dan Muhammadiyah adalah konsekuensi dari kecintaan terhadap ilmu, semangat untuk perbaikan diri dan perbaikan umat.

Baca Juga: Menyoroti rencana Prabowo bangun 'Sekolah Rakyat', intip 3 fakta sejarah jenjang pendidikan di Indonesia dari SD hingga SMA

Dalam kata NU melekat kataulama yang berarti ‘orang yang berilmu’ atau ‘kebangkitan ulama/orang yang berilmu’.

Dalam kata ‘Muhammadiyah’ juga melekat soal ilmu dan tanggungjawab sebagai pengikut sang Nabi terakhir yang mengajarkan kata iqra’ (membaca) serta perlunya pembelaan terhadap mustadh’afin atau kaum yang lemah.

Cinta ilmu, perbaikan diri dan perbaikan umat tercermin dalam dua kolektivitas besar pada dekade kedua dan ketiga abad ke-20 tersebut.

Dari tiga hal di atas, mungkin boleh kita merenung. Bagaimanakah kita dałam tradisi mencintai ilmu tersebut.

Baca Juga: Beranggotakan para pelajar, Polsek Pagaden amankan para anggota Genk Kansas 122 serta lakukan deklarasi pembubaran permanen

Minat tiap orang beda-beda, akan tetapi beberapa penguasa yang tidak sempat atau tidak bisa mengajar, memilih untuk mendukung para ilmuwan dalam berbagai hal.

Di sini ada kolaborasi antara penguasa dan ilmuwan sesuai kapasitasnya masing-masing. Tak bisa satu hal bukan berarti tidak bisa pada semua hal.

Ada wilayah-wilayah dimana kita bisa berkontribusi, walau tidak harus terlihat, walau tidak harus terdengar, walau tidak harus yang besar-besar.

Sebuah film kungfu yang lawas menceritakan bagaimana seorang guru kungfu yang didukung oleh seorang hartawan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X