ESAI : Bullying? hindari circle dan lingkungan toxic

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Senin, 2 Desember 2024 | 00:06 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Maraknya kasus bullying akhir-akhir ini, tentunya membuat kita prihatin, terlebih jika perilaku bullying banyak terjadi dilingkungan dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman untuk pengembangan kepridadian dan psikologis anak ataupun peserta didik.

Bullying merupakan perilaku agresif yang berulang, disengaja, dan memiliki tujuan untuk menyakiti, merendahkan atau mendominasi orang lain baik secara emosional, fisik ataupun mental.

Tidak hanya dalam lingkungan dunia pendidikan yang seringkali menuai banyak sorotan, perilaku bullying bisa terjadi dimana saja dan dalam berbagai konteks.

Baca Juga: KEK Wahana Patimban dan Smartpolitan akan ciptakan 200 ribu lapangan kerja, Pj. Bupati harap lembaga pendidikan di Subang cetak SDM unggul

Perilaku bullying bisa terjadi di tempat kerja, lingkungan online (cyberbullying) seperti group-group WA, di kantin, di tempat tongkrongan ataupun tempat-tempat umum lainya.

Bahkan dalam momen-momen pesta demokrasi seperti pemilihan umum, baik pemilihan legislatif, pilpres ataupun pemilihan kepala daerah juga sering diwarnai perilaku bullying dari para pendukung fanatiknya yang terjadi pada ruang-ruang publik dan juga media sosial.

Perilaku bullying tentunya sangat mengganggu, terutama bagi kesehatan mental yang sering terjadi seperti menimbulkan kecemasan, depresi, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD).

Perilaku bullying seringkali terjadi dalam lingkungan yang tidak sehat, lingkungan toxic ataupun circle yang dikelilingi oleh orang-orang toxic, dimana perilaku negatif seperti kebiasaan ghibah, penyakit hati seperti iri, hasad, dengki dan berbagai perilaku negatif lainya sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Baca Juga: Pendidikan berkualitas, Hidayat Nurwahid : Langkah tepat hadapi bonus demografi dan menuju Indonesia Emas 2045

Seringkali mata kita juga jengah melihat para pelaku bullying yang kadang menganggap hal tersebut seperti sesuatu hal yang lumrah dan menjadi kebiasaan bahkan seringkali merasa tidak bersalah dan hanya menganggap hal tersebut sebagai guyonan.

Dalam hal seperti ini tentunya kita harus punya sikap, bersikap tegas dan menghindari lingkungan toxic merupakan cara terbaik dan sikap kita bahwa kita menolak dan tidak menyukai perilaku tersebut, bukan terhadap pribadinya tapi terhadap perilakunya, perilaku bullying.

Dalam berbagai petuah dan nasihat orang-orang bijak, kita diajarkan untuk mencari lingkungan yang baik, ngopi dan bergaul dengan lingkungan yang sehat dan positif, atau kita sendiri yang berusaha menciptakan circle atau lingkungan yang baik.

Di era digital hari ini, rekam jejak digital seperti teks, poto ataupun video seseorang yang diunggah di media sosial ataupun pemberitaan di berbagai media online akan menjadi catatan digital penting terhadap citra dan kepribadian seseorang.

Baca Juga: Peluncuran buku 'Gerakan Islam Berkemajuan' karya Haedar Nashir akan meriahkan Tanwir Muhammadiyah 2024 di Kupang

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X