Maraknya kasus bullying akhir-akhir ini, tentunya membuat kita prihatin, terlebih jika perilaku bullying banyak terjadi dilingkungan dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman untuk pengembangan kepridadian dan psikologis anak ataupun peserta didik.
Bullying merupakan perilaku agresif yang berulang, disengaja, dan memiliki tujuan untuk menyakiti, merendahkan atau mendominasi orang lain baik secara emosional, fisik ataupun mental.
Tidak hanya dalam lingkungan dunia pendidikan yang seringkali menuai banyak sorotan, perilaku bullying bisa terjadi dimana saja dan dalam berbagai konteks.
Perilaku bullying bisa terjadi di tempat kerja, lingkungan online (cyberbullying) seperti group-group WA, di kantin, di tempat tongkrongan ataupun tempat-tempat umum lainya.
Bahkan dalam momen-momen pesta demokrasi seperti pemilihan umum, baik pemilihan legislatif, pilpres ataupun pemilihan kepala daerah juga sering diwarnai perilaku bullying dari para pendukung fanatiknya yang terjadi pada ruang-ruang publik dan juga media sosial.
Perilaku bullying tentunya sangat mengganggu, terutama bagi kesehatan mental yang sering terjadi seperti menimbulkan kecemasan, depresi, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD).
Perilaku bullying seringkali terjadi dalam lingkungan yang tidak sehat, lingkungan toxic ataupun circle yang dikelilingi oleh orang-orang toxic, dimana perilaku negatif seperti kebiasaan ghibah, penyakit hati seperti iri, hasad, dengki dan berbagai perilaku negatif lainya sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Seringkali mata kita juga jengah melihat para pelaku bullying yang kadang menganggap hal tersebut seperti sesuatu hal yang lumrah dan menjadi kebiasaan bahkan seringkali merasa tidak bersalah dan hanya menganggap hal tersebut sebagai guyonan.
Dalam hal seperti ini tentunya kita harus punya sikap, bersikap tegas dan menghindari lingkungan toxic merupakan cara terbaik dan sikap kita bahwa kita menolak dan tidak menyukai perilaku tersebut, bukan terhadap pribadinya tapi terhadap perilakunya, perilaku bullying.
Dalam berbagai petuah dan nasihat orang-orang bijak, kita diajarkan untuk mencari lingkungan yang baik, ngopi dan bergaul dengan lingkungan yang sehat dan positif, atau kita sendiri yang berusaha menciptakan circle atau lingkungan yang baik.
Di era digital hari ini, rekam jejak digital seperti teks, poto ataupun video seseorang yang diunggah di media sosial ataupun pemberitaan di berbagai media online akan menjadi catatan digital penting terhadap citra dan kepribadian seseorang.
Artikel Terkait
ESAI : Rendahnya minat baca pada anak
8 Tips penting untuk orangtua dan guru supaya hindari anak dari perilaku bullying di sekolah
Orangtua perlu tau, ini dampak bullying terhadap psikologis anak
ESAI : Peran konten media sosial dalam sampaikan pesan kemanusiaan
ESAI : Pilkada Subang, diantara tantangan dan harapan, kita butuh pemimpin yang progresif
Hadiri pemakaman korban bullying, Kapolres Subang sampaikan belasungkawa yang mendalam dan tegaskan akan mengusut tuntas kasus almarhum A.R
ESAI : Kado istimewa di Hari Guru, refleksi mengenai peran guru sebagai kunci pembentukan karakter siswa dengan pengelolaan sosial emosional