ESAI : Rendahnya minat baca pada anak

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Selasa, 28 November 2023 | 08:56 WIB
Neni Rohaeni, Mahasiswi Riyadhul Jannah Subang
Neni Rohaeni, Mahasiswi Riyadhul Jannah Subang

Baca Juga: ESAI : Guru dan tantangan zaman, adab murid terhadap guru semakin terlupakan

Sehingga akses terhadap buku yang berkurang dan minimnya terbitan buku di daerah saya membuat anak kurang gemar terhadap minat baca. Anak lebih menyukai hal yang serba instan dibanding dengan hal yang memerlukan usaha. 

Selanjutnya, akses terhadap buku yang berkurang dan radius anak dalam memperoleh buku yang diinginkan tergolong jauh berdampak pada menurunnya semangat anak dalam membaca sehingga anak belum merasakan pentingnya akan minat baca terlebih di kalangan anak-anak.

Masyarakat Indonesia masih berada pada kondisi data yang masih cukup memprihatinkan, minat baca di Indonesia berada di urutan ke-60 dari 61 negara.

Dengan minat baca sekitar 0,001%, itu artinya jika terdapat 1000 penduduk Indonesia hanya 1 orang yang memiliki minat dalam membaca.

Baca Juga: Jadi ketua DPAC Pejuang Siliwangi Kecamatan Dawuan, Syaepul Anwar, figur pemuda Desa Jambelaer yang berjuang pupuk untuk para petani

Kebanyakan anak belum sadar pentingnya membaca buku bagi dirinya sendiri. Ada pepatah yang sudah tidak asing terdengar yaitu buku adalah jendela dunia.

Mengapa dikatakan demikian? Karena dengan adanya buku kita dapat memperoleh, memahami, mempelajari suatu hal yang asal mulanya kita tidak tahu menjadi tahu.

Selain itu, buku menjadi sumber yang sangat penting bagi seorang pengajar yang tentunya kegemaran dalam membaca harus diturunkan kepada murid khususnya anak-anak.

Neni Rohaeni
Mahasiswi Riyadhul Jannah Subang

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X