Baca Juga: ESAI : Guru dan tantangan zaman, adab murid terhadap guru semakin terlupakan
Sehingga akses terhadap buku yang berkurang dan minimnya terbitan buku di daerah saya membuat anak kurang gemar terhadap minat baca. Anak lebih menyukai hal yang serba instan dibanding dengan hal yang memerlukan usaha.
Selanjutnya, akses terhadap buku yang berkurang dan radius anak dalam memperoleh buku yang diinginkan tergolong jauh berdampak pada menurunnya semangat anak dalam membaca sehingga anak belum merasakan pentingnya akan minat baca terlebih di kalangan anak-anak.
Masyarakat Indonesia masih berada pada kondisi data yang masih cukup memprihatinkan, minat baca di Indonesia berada di urutan ke-60 dari 61 negara.
Dengan minat baca sekitar 0,001%, itu artinya jika terdapat 1000 penduduk Indonesia hanya 1 orang yang memiliki minat dalam membaca.
Kebanyakan anak belum sadar pentingnya membaca buku bagi dirinya sendiri. Ada pepatah yang sudah tidak asing terdengar yaitu buku adalah jendela dunia.
Mengapa dikatakan demikian? Karena dengan adanya buku kita dapat memperoleh, memahami, mempelajari suatu hal yang asal mulanya kita tidak tahu menjadi tahu.
Selain itu, buku menjadi sumber yang sangat penting bagi seorang pengajar yang tentunya kegemaran dalam membaca harus diturunkan kepada murid khususnya anak-anak.
Neni Rohaeni
Mahasiswi Riyadhul Jannah Subang
Artikel Terkait
ESAI : Mengenang tragedi semanggi 1998, perjuangan demokrasi dan darah para demonstran
ESAI : Dampak fenomena childfree di Indonesia
ESAI : Membangun karakter peserta didik melalui keteladanan guru
ESAI : Tingkat keterbukaan dengan gangguan kecemasan di lingkungan keluarga
ESAI : Tingkat perceraian makin tinggi, apa penyebabnya?
ESAI : Stop bullying! demi masa depan anak bangsa yang lebih cerah
ESAI : Guru dan tantangan zaman, adab murid terhadap guru semakin terlupakan