ESAI : Dampak fenomena childfree di Indonesia

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 24 November 2023 | 06:31 WIB
Dea Amorita, Mahasiswa STAI Riyadhul Jannah Subang
Dea Amorita, Mahasiswa STAI Riyadhul Jannah Subang

Baca Juga: 5 Tersangka kasus pembunuhan ibu dan anak dihadirkan pada rekonstruksi yang dilakukan oleh Polda Jabar

Secara Kodrat wanita itu akan mengalami fungsi kehamilan, melahirkan dan menyusui. Ketika wanita mengalami fungsi tersebut maka secara alami proses hormonal pada tubuh akan mengalami perubahan dan itu akan mengurangi resiko kanker. 

Ketika seorang wanita mengalami kehamilan, maka akan menyebabkan penurunan jumlah total siklus pelepasan sel telur dari ovarium yang berkaitan erat dengan penurunan resiko kanker ovarium. 

Sama halnya dengan endometrium yang sangat sensitif terhadap lingkungan hormonal. 

Saat hamil lapisan endometrium terpapar hormon estrogen dan progesteron. Paparan hormon tersebut telah terbukti mengurangi resiko kanker endometrium. 

Baca Juga: Buka MTQ Ke-39, Bupati Subang bicara tentang peradaban, yang dimulai dengan kualitas SDM dan tingkat pendidikan yang berakhlak

Perubahan hormon estrogen dan progesteron selama kehamilan dan menyusui juga diyakini berkontribusi dalam menurunkan resiko kanker payudara. Selain itu, wanita tanpa anak juga cenderung lebih cepat meninggal. 

Data dari Jalan Collaborative Cohort Study menemukan bahwa wanita tanpa anak berusia 40 tahun keatas memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dari semua penyebab dibandingkan wanita dengan anak. 

Jadi, pilihan untuk tidak memiliki anak akan cenderung menempatkan wanita pada resiko kesehatan yang buruk dimasa tua.

Saat ini tren yang menjamur dan diterapkan sebagai gaya hidup masyarakat kita sehingga akan ada dampak sosial yang sangat berpengaruh. 

Baca Juga: Pawai ta'aruf turut meriahkan pembukaan MTQ ke-39 Kabupaten Subang

Secara individual, pasangan yang tidak memiliki anak maka tidak ada yang menghibur disaat tua dan mengunjungi sesekali disaat sakit. 

Jadi, di usia tua akan merasa kesepian. Ketika kita masih muda mungkin merasa kuat, tangguh dan serba bisa. 

Tetapi berbeda jika kita sudah tua, saat tubuh sudah tidak kuat lagi dan berbagai penyakit menggerogoti tubuh maka akan membutuhkan peran anak yang membantu orangtua. 

Lalu, sedikit kerinduan akan muncul pada celoteh ceria anak kecil, kehangatan keluarga dimasa tua nanti. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB
X