ESAI : Urgensi moderasi beragama dalam pendidikan Islam bagi generasi milenial

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 7 Oktober 2023 | 15:56 WIB
Anja Hawari Fasya, Mahasiswa STAI Riyadhul Jannah Subang
Anja Hawari Fasya, Mahasiswa STAI Riyadhul Jannah Subang

Kata terrere adalah bentuk kata kerja dari terrorem yang berati membuat rasa takut yang luar biasa, dalam kata lain bisa berati membuat rasa takut atau ketakutan.

Sedangkan, menurut Louise Richardson kegiatan terorisme diartikan serangan terhadap warga sipil, dilakukan secara keras dan terencana untuk mencapai tujuan politik.

Terorisme merupakan tindakan yang membuat ketakutan dan merugikan banyak orang.

Baca Juga: Wajib tahu, ini 7 rahasia sukses dalam wawancara kerja

Karena itu, perlu penanggulangan secara serius terkhusus melalui pendidikan Islam yang toleran dan menitikberatkan kepada moderasi beragama.

Hal ini berfungsi sebagai kontra narasi sekaligus perlawanan terhadap paham yang anti kemajemukan.

Pada level mikro pendidikan Islam di sekolah terdapat tiga langkah srategis ala Irfan Amalee yaitu Learn, Teach and Spread (pelajari, ajarkan dan sebarkan).

Sebagai Founder Peace Generation Indonesia, Irfan melahirkan modul 12 Nilai Dasar Perdamaian, diantaranya : (1) menerima diri, (2), prasangka, (3), perbedaan etnis, (4) perbedaan agama, (5) perbedaan jenis kelamin, (6), perbedaan status ekonomi, (7), perbedaan kelompok, (8), keanekaragaman, (9), konflik, (10) menolak kekerasan, (11), mengakui kesalahan, dan terakhir (12) memberi maaf.

Untuk menyebarkan pesan damai maka pendidik harus memahami nilai dasar perdamaian itu sendiri, melakukan upaya pembelajaran dan program kepada peserta didik seperti membuat peace camp, seminar, training for trainer dan metode pembelajaran kreatiif lainya.

Baca Juga: Catat! ini 10 tips lulus dalam tes kognitif saat recruitment karyawan

Disamping lain, para pelaku pendidikan agama Islam diharapkan mampu menyisipkan muatan moderasi dalam seluruh fase proses pembelajaranya.

Karena, pada dasarnya istilah moderasi beragama adalah pemahaman keagamaan yang berada di tengah, tidak berpihak ke kiri dan kanan.

Dalam term Agama Islam 'Wasthaniyah', pemahaman ini juga mengandung makna keagaman yang mengarah pada upaya untuk mengatur kehidupan yang seimbang.

Jik kita mengacu kepada Renstra tahun 2014-2019 Kementerian Agama. Salah satu point penting mengena hal ini, adanya penekanan kepada penguatan moderasi beragama, yaitu upaya untuk meningkatkan kualitas kerukunan dalam kehidupan umat beragama dalam konteks, berbangsa dan bernegara.

Hal ini menjadi acuan direktorat Jendral pendidikan Islam melahirkan tanggung jawab bersama mengkampanyekan pendidikan yang berdaya saing, reponsif, serta membangun sikap inklusif dalam beragama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X