Hal itu kemudian menjadi salah satu alasan dirinya dilaporkan ke aparat penegak hukum.
Baca Juga: Bupati Subang buka fakta open bidding: Saudara ikut, hasil tetap gugur
Ia menjelaskan bahwa kajian tersebut dilakukan dengan pendekatan ilmu anatomi, fisiologi, dan perilaku, yang menurutnya merupakan kompetensi dasar seorang dokter.
“Bagaimana mengomparasi foto itu masih dalam konteks ilmu anatomi, fisiologi, dan behaviour. Itu kompetensi dasar dokter,” paparnya.
Hasil kemiripan dinilai kurang dari 1 persen
Dalam penelitiannya, dokter Tifa mengaku menggunakan 17 variabel wajah yang kemudian dihitung dengan rumus matematika yang telah baku.
Variabel tersebut meliputi struktur dagu, lebar rahang, lipatan mata, kedalaman mata, panjang hidung, hingga asimetri wajah.
“Asimetri wajah itu ada 17 variabel yang saya hitung secara matematis. Rumusnya sudah terkunci,” jelasnya.
Ia membandingkan foto Jokowi saat muda yang berkacamata dan berkumis dengan foto Jokowi di usia lebih tua yang tanpa kacamata dan kumis.
Hasilnya, menurut dokter Tifa, tingkat kemiripan kedua kelompok foto tersebut sangat rendah.
“Hasil similarity-nya hanya sekitar 1 persen. Perbedaannya mencapai 99,7 persen. Itu orang yang berbeda,” tegasnya.
Baca Juga: Viral dugaan pungli ke relawan bencana Aceh di Palembang, Dishub klaim pelaku bukan anggotanya
Polemik berujung proses hukum
Dokter Tifa menambahkan bahwa polemik dugaan ijazah palsu Jokowi tidak hanya menyeret dirinya, tetapi juga melibatkan Roy Suryo dan Rismon Sianipar Hasiholan.