"Ini cerpenku, tolong kau baca," mahasiswa berperawakan lusuh menyodorkan halaman korannya.
Belakangan baru kuketahui ia adalah seorang penulis, berkat salah satu cerpennya yang tengah pamor dan menjadi pembicaraan hangat di lingkungan kampus.
Selama ini aku selalu mengenalnya sebagai mahasiswa yang masih satu angkatan denganku. Itu pun berkatnya yang selalu bersamaan denganku saat mengerjakan tugas maupun mengerjakan skripsi.
Ia juga tengah menyelesaikan tugas akhir skripsi untuk memperoleh gelar akademiknya, sama sepertiku pada saat itu.
"Maaf hanya sisa itu, semuanya telah raib hari ini. Berita hangat pemerintahan memikat orang-orang untuk membeli koran." Air keringat bercucuran dari wajahnya.
Beberapa titik koran pun mulai basah, sebab tangannya yang turut berkeringat terpapar terik matahari kota.
"Pemimpin negara yang mengakhiri masa jabatannya?" aku menimpal dengan sembrono. Ia pun tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa tertawa?" dahiku mengerut. Aku sama sekali tak mengerti kalimat humor mana yang keluar dari mulutku, hingga ia tertawa terbahak-bahak layaknya wong gendeng.
Aku beranjak dari ranjang yang menyangga setengah tubuhku, mengacak-ngacak lembaran koran dalam lipatan rapi. Tersingkaplah gambar yang tak lagi asing.
Ia bersandar di lembar paling akhir, bersama beberapa rentetan naskah lainnya. Lelaki lusuh dengan rambut panjang menyentuh bahu.
Aku memandanginya dengan saksama. Dadaku berdegup kencang. Aku kembali terlempar, jauh saat pertama kali kami atau lebih tepatnya aku menjumpainya.
Di perpustakaan kampus, saat mulai berkencan dengan tumpukan tugas di semester empat, di sana kudapati lelaki itu. Sangat tenang.