Di balik romantisme hujan, diskusi semiotika dan feminis cerpen Fileski digelar di Madiun

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Minggu, 15 Februari 2026 | 22:37 WIB
Diskusi sastra RuSa TerBang Project membahas kajian semiotika dan feminis cerpen Fileski bersama akademisi dan pegiat literasi. Madiun, Sabtu 14 Februari 2026 (Dok. Istimewa)
Diskusi sastra RuSa TerBang Project membahas kajian semiotika dan feminis cerpen Fileski bersama akademisi dan pegiat literasi. Madiun, Sabtu 14 Februari 2026 (Dok. Istimewa)

“Hujan membangun mitos tentang cinta pertama yang abadi,” jelas Shalihah dalam diskusi tersebut.

Baca Juga: Soal penangguhan penahanan, korban kecewa Habib Bahar bin Smith belum ditahan dalam kasus dugaan penganiayaan

Ia menyoroti tokoh Jasmin yang diposisikan sebagai perempuan ideal melalui ingatan tokoh laki-laki.

Jasmin, menurutnya, tidak tampil sebagai subjek yang memiliki suara sendiri, melainkan sebagai konstruksi memori dan emosi tokoh 'aku'.

Analisis tersebut juga menemukan adanya oposisi representasi perempuan.

Figur perempuan dalam kenangan digambarkan suci dan ideal, sementara perempuan yang hadir melalui aplikasi kencan dilekati citra tubuh dan seksualitas.

Baca Juga: Sempat viral pesawat Super Air Jet delay 5 jam penumpang dapat kompensasi Rp300 ribu

Perspektif feminis dan male gaze

Dari sudut pandang kritik feminis, Shalihah merujuk konsep male gaze dari Laura Mulvey yang menjelaskan bagaimana perempuan kerap direpresentasikan sebagai objek pandangan laki-laki.

Dalam cerpen itu, tokoh perempuan dinilai melalui sudut pandang tokoh 'aku', sehingga berfungsi sebagai cermin pengalaman batin laki-laki.

Hal ini sejalan dengan gagasan Simone de Beauvoir tentang perempuan sebagai the Other dalam struktur patriarkal.

Ia juga menyoroti standar moral ganda terhadap perempuan yang dipuji ketika diasosiasikan dengan kesucian, namun dipandang negatif ketika berada dalam ruang sosial yang dilekati makna seksual.

Baca Juga: Viral suami di Grobogan belah rumah jadi dua buntut dugaan perselingkuhan istri

Dalam kesimpulannya, Shalihah menegaskan bahwa cerpen tersebut membuka refleksi kritis tentang bagaimana identitas perempuan dibentuk oleh cara pandang patriarkal.

Perempuan dalam cerita diposisikan sebagai objek emosi dan hasrat, bukan sebagai subjek yang utuh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X