“Hujan membangun mitos tentang cinta pertama yang abadi,” jelas Shalihah dalam diskusi tersebut.
Ia menyoroti tokoh Jasmin yang diposisikan sebagai perempuan ideal melalui ingatan tokoh laki-laki.
Jasmin, menurutnya, tidak tampil sebagai subjek yang memiliki suara sendiri, melainkan sebagai konstruksi memori dan emosi tokoh 'aku'.
Analisis tersebut juga menemukan adanya oposisi representasi perempuan.
Figur perempuan dalam kenangan digambarkan suci dan ideal, sementara perempuan yang hadir melalui aplikasi kencan dilekati citra tubuh dan seksualitas.
Baca Juga: Sempat viral pesawat Super Air Jet delay 5 jam penumpang dapat kompensasi Rp300 ribu
Perspektif feminis dan male gaze
Dari sudut pandang kritik feminis, Shalihah merujuk konsep male gaze dari Laura Mulvey yang menjelaskan bagaimana perempuan kerap direpresentasikan sebagai objek pandangan laki-laki.
Dalam cerpen itu, tokoh perempuan dinilai melalui sudut pandang tokoh 'aku', sehingga berfungsi sebagai cermin pengalaman batin laki-laki.
Hal ini sejalan dengan gagasan Simone de Beauvoir tentang perempuan sebagai the Other dalam struktur patriarkal.
Ia juga menyoroti standar moral ganda terhadap perempuan yang dipuji ketika diasosiasikan dengan kesucian, namun dipandang negatif ketika berada dalam ruang sosial yang dilekati makna seksual.
Baca Juga: Viral suami di Grobogan belah rumah jadi dua buntut dugaan perselingkuhan istri
Dalam kesimpulannya, Shalihah menegaskan bahwa cerpen tersebut membuka refleksi kritis tentang bagaimana identitas perempuan dibentuk oleh cara pandang patriarkal.
Perempuan dalam cerita diposisikan sebagai objek emosi dan hasrat, bukan sebagai subjek yang utuh.
Artikel Terkait
Bumi Manusia: Ketika pena menjadi senjata melawan penjajahan
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa
ESAI: Literasi dan aktivisme
ESAI: 'Sirisihin' Madiun berdialog seni rupa, ekosistem, dan kejujuran berkarya
ESAI: Kota Madiun menyibak tenunan kata yang dirindukan jiwa