Diskusi ini pun menjadi momentum penting untuk mendorong pembacaan sastra yang lebih kritis dan kontekstual, sekaligus memperluas kesadaran akan konstruksi sosial yang membentuk representasi perempuan dalam karya sastra.***
Diskusi ini pun menjadi momentum penting untuk mendorong pembacaan sastra yang lebih kritis dan kontekstual, sekaligus memperluas kesadaran akan konstruksi sosial yang membentuk representasi perempuan dalam karya sastra.***
Artikel Terkait
Bumi Manusia: Ketika pena menjadi senjata melawan penjajahan
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa
ESAI: Literasi dan aktivisme
ESAI: 'Sirisihin' Madiun berdialog seni rupa, ekosistem, dan kejujuran berkarya
ESAI: Kota Madiun menyibak tenunan kata yang dirindukan jiwa