Rhenald Kasali soroti proyek mangkrak di RI, bandingkan dengan infrastruktur jumbo di China: Dulu dibangun untuk 20 tahun ke depan

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Kamis, 13 November 2025 | 03:27 WIB
Menyoroti pernyataan praktisi bisnis, Prof. Rhenald Kasali terkait polemik mega proyek di RI (YouTube.com/Prof. Rhenald Kasali)
Menyoroti pernyataan praktisi bisnis, Prof. Rhenald Kasali terkait polemik mega proyek di RI (YouTube.com/Prof. Rhenald Kasali)

GENMILENIAL.ID – Sejumlah proyek strategis nasional (PSN) di Indonesia tengah menjadi sorotan publik lantaran banyak yang kini terancam mangkrak.

Beberapa proyek besar seperti Ibu Kota Nusantara (IKN), MRT Fase II, Kereta Semi Cepat Jakarta–Surabaya, hingga Tol Trans Sumatera tahap II dilaporkan mengalami hambatan di lapangan — mulai dari pembebasan lahan, lemahnya perencanaan, hingga kendala pembiayaan.

Tak hanya itu, sejumlah proyek lain seperti Pelabuhan Ambon, Tol Getaci, Bendungan Sarolangun Jambi, hingga Jalan Akses Ujung Jabung juga mengalami penundaan tanpa kejelasan penyelesaian.

Baca Juga: Raker dengan DPR, BGN minta tambahan anggaran Rp28,63 triliun untuk program MBG hingga akhir 2025

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan efektivitas penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama di tengah beban fiskal yang semakin berat.

Menkeu Purbaya: APBN harus jadi mesin kesejahteraan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa APBN seharusnya berfungsi sebagai mesin penggerak kesejahteraan rakyat, bukan sekadar alat pembiayaan proyek fisik.

“Pada dasarnya sama, seluruh APBN dan kegiatan pemerintah tujuannya untuk membuat masyarakat kita semua jadi kaya,” ujar Purbaya dalam Rapat Kerja Komite IV DPD RI di Senayan, Jakarta, Kamis 6 November 2025. 

Baca Juga: ESAI : Kode etik jurnalistik, pilar etika, kebenaran, dan tanggung jawab wartawan di era digital

Menurut Purbaya, keberhasilan ekonomi nasional tidak bisa diukur dari banyaknya proyek besar atau orang kaya baru, melainkan dari seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat luas.

“Kalau saya sendiri ya sudah kaya, tapi sebagian besar masyarakat kita nggak begitu. Itu bukan keberhasilan kalau yang kaya cuma sedikit,” tegasnya.

Ia menambahkan, infrastruktur tetap penting, namun hasil akhirnya harus berujung pada peningkatan taraf hidup rakyat.

“Saya selalu bilang, mari kita kaya bersama. Itu tujuan kita,” tandasnya.

Baca Juga: ICW soroti utang Whoosh Rp116 triliun: Pemerintah dinilai kurang matang dalam perencanaan proyek

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X