Kita kemudian hidup dalam sebuah paradoks: teknologi membuat segala sesuatu semakin cepat, tetapi manusia justru semakin membutuhkan 'healing'.
Mengapa?
Karena manusia modern sedang kelelahan menghadapi kehidupan yang dipaksa berjalan melampaui ritme kemanusiaannya sendiri.
Healing akhirnya menjadi istilah populer untuk menggambarkan kebutuhan manusia kembali kepada sesuatu yang lebih alami, lebih lambat, lebih tenang, lebih berproses.
Baca Juga: Penyidikan cukup bukti, polisi tetapkan 2 tersangka kasus pengeroyokan siswa SMA di Bener Meriah
Namun persoalannya tidak berhenti di sana.
Ketika berbagai persoalan sosial muncul akibat tata kelola yang serba cepat, respons yang diberikan pun sering kali sama, dibuatlah aturan baru secara instan.
Berganti rezim, berganti pula aturan. Berganti persoalan, berganti kebijakan. Rakyat akhirnya menjadi semacam kelinci percobaan dari kebijakan yang terus berganti, sementara akar persoalannya belum tentu pernah disentuh.
Padahal Al-Qur’an mengajarkan satu prinsip yang sangat penting, tartil.
Tartil bukan sekadar membaca Al-Qur’an dengan lagu dan perlahan. Lebih dalam dari itu, tartil adalah cara membaca kehidupan: perlu keteraturan, tahapan , tidak tergesa-gesa, dan tidak tidak impulsif.
Al-Qur’an adalah bacaan, tetapi ia juga merupakan rekaman tentang fakta kehidupan yang diabadikan dalam suhuf agar manusia membacanya.
Karena itu, yang seharusnya dibaca bukan hanya teksnya, tetapi juga proses kehidupan yang berada di balik teks tersebut.
Alam mengajarkan tartil. Manusia lahir melalui tartil. Pertumbuhan membutuhkan tartil. Bahkan keberhasilan pun membutuhkan tartil.