Dalam konteks ini, puisi, esai, dan cerpen bukanlah pelarian, tapi cara lain untuk menulis ulang sejarah kota, sejarah dari bawah, dari jok motor yang sering diabaikan.
Setiap kali saya naik ojol, saya tahu saya sedang menumpang pada tubuh yang bekerja keras, tubuh yang bisa rapuh kapan saja. Dan di dalam kerentanan itu, saya belajar tentang arti keberanian.
Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam setiap perjalanan, dua orang asing yang berbagi jalan, berbagi waktu, berbagi sedikit kepercayaan. Dari situlah, saya percaya, sastra bisa tumbuh.
Kini, ketika saya menulis esai ini, saya merasa setiap denyut kota terhubung dengan denyut kehilangan yang masih saya bawa.
Kehilangan adik saya, kehilangan Affan, kehilangan yang mungkin akan terus terjadi pada orang-orang kecil di jalanan Jakarta.
Tapi daripada menyerah pada putus asa, saya memilih untuk menuliskannya, menaruh nama mereka di halaman yang tidak mudah dihapus. Sebab, seperti kota, sastra juga adalah arsip, arsip cinta, arsip duka, arsip perlawanan.
Dan esai ini, semoga, bisa menjadi lilin kecil untuk menerangi nama Affan, sekaligus pelukan untuk semua pengemudi ojol yang setiap hari menyusuri kota dengan tubuh mereka sebagai taruhan.
Terima kasih telah membawa saya ke rumah, ke stasiun, ke halte Trans-Jakarta, ke kafe, dan bahkan ke lorong-lorong puisi yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Ikhsan Risfandi, penulis puisi kelahiran Jakarta 1985, dikenal dengan nama IRZI dan telah menerbitkan dua buku yaitu Ruang Bicara terbit pada 2019 dan Trivia Kampung Sawah yang terbit pada November 2024