Senja selalu menjadi saat paling keramat bagi Kahlil Gibran. Bukan karena indahnya bias jingga di langit New York, melainkan karena di situlah, di antara tumpukan kertas dan tinta, ia bertemu dengan semesta lain.
Semesta yang berjarak ribuan mil, terbentang dari dinginnya Amerika hingga hangatnya Kairo. Semesta itu bernama May Ziadah.
Ketika jiwa berjumpa, tanpa tatap muka
Dunia mengenal Gibran sebagai pujangga agung, pengukir kata-kata yang membius hati yang jatuh atau patah cinta.
Para pemuda mengutipnya, mengukir namanya di setiap duka dan asmara. Tapi, di balik bait-bait yang mengalir seperti sungai, siapakah musenya?
Baca Juga: BCA resmi jadi penyalur FLPP, Menteri PKP optimis target 3 juta rumah tercapai
Siapakah objek yang dituju oleh pena indahnya? Bukan rupa, bukan sentuhan, melainkan resonansi jiwa yang dimulai dari sehelai surat.
Kisah mereka bukanlah romansa biasa yang dibumbui pertemuan dan tatapan mata. Ini adalah kisah cinta yang teranyam dalam keheningan tinta, dalam alunan kata-kata yang menyeberangi benua.
Selama dua puluh tahun, Gibran dan May menjalin kasih lewat korespondensi. Sebuah cinta yang bersemi di atas kertas, tumbuh dalam imajinasi, dan berakar pada kedalaman spiritual yang tak terjangkau oleh batas fisik.
May, seorang penulis dan sastrawati yang cerdas di Kairo, adalah cerminan jiwanya yang lain. Mereka membahas filsafat, seni, kemanusiaan, dan tentu saja, cinta.
Baca Juga: PT Dahana serahkan bantuan sarana pendidikan untuk sekolah di Subang, dukung pendidikan berkualitas
Setiap surat adalah percakapan panjang yang melampaui ruang dan waktu, sebuah jembatan yang menghubungkan dua jiwa yang haus akan pemahaman.
Dalam surat-surat itu, Gibran menemukan 'kekasih' yang tak pernah ia temui secara fisik, namun begitu nyata di alam pikir dan hatinya.
Surat-surat itu, inspirasi yang tersembunyi