esai

ESAI: Jadilah pemusar, bukan benalu peradaban

Jumat, 9 Mei 2025 | 04:12 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis

Ia tidak sekadar menulis novel. Ia membangun kesadaran. Ia menjahit kembali harga diri yang dilucuti oleh penjajahan dan ketidakadilan.

Baca Juga: Momen Dedi Mulyadi ngaku ingin usut sendiri 20 identitas asli eks pemain OCI yang diduga jadi korban eksploitasi

Dari mereka kita belajar: hidup bukan untuk diam, bukan untuk sekadar lulus, kerja, menikah, dan mati.

Hidup adalah perjalanan menjadi terang bagi orang lain, menjadi akar dari pohon besar bernama peradaban.

Kita bisa menjadi siapa saja—guru, petani, jurnalis, seniman, pemikir, pegiat. Tapi satu yang tak boleh dilupakan: jangan menjadi benalu.

Jangan hanya hidup dari sumbangan zaman tanpa memberi kembali.

Jangan hanya pandai mengkritik, tapi malas membangun. Jangan hanya menjadi sorak-sorai, tapi tak ikut berjuang.

Baca Juga: Ketegangan meningkat imbas tarif resiprokal, China dan AS bakal berunding di Jenewa

Karena pada akhirnya, sejarah akan bertanya:
apa yang kau tanam untuk dunia ini?

Dan semoga kita bisa menjawab dengan kepala tegak:
"Aku telah hidup. Dan aku telah memberi makna."

Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) Jakarta

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB