ESAI: Jadilah pemusar, bukan benalu peradaban

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Jumat, 9 Mei 2025 | 04:12 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Dalam sunyi sejarah, manusia kerap dihadapkan pada dua pilihan: menjadi bagian dari perubahan atau sekadar angka yang lewat dan dilupakan.

Hidup yang hanya untuk sekadar hidup adalah kemewahan yang terlalu sederhana untuk jiwa yang berpikir.

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan,” tulis Soe Hok Gie, anak muda yang memilih berpikir dan berjalan di antara puing zaman, ketimbang terjebak dalam kenyamanan semu.

Ia tahu, menjadi manusia berarti menolak diam. Menolak apatis. Menolak pasrah.

Baca Juga: Skandal TPPU usaha sawit Duta Palma, Kejagung kini menyita total uang senilai Rp6,8 triliun

Menjadi manusia sejati adalah menjadi pemusar—pusat dari getaran perubahan, poros dari semangat pembebasan.

Mereka yang hidup bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk sebuah gagasan yang lebih luas: keadilan sosial, martabat manusia, kebebasan berpikir.

Wiji Thukul menulis:

"Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa"

Baca Juga: Alasan Bareskrim ambil 7 sampel ijazah rekan Jokowi di Jateng, buntut skandal dugaan ijazah palsu ayah Gibran

Kata-kata itu bukan sekadar puisi. Ia adalah nyala api di tengah malam, suara hati yang tak bisa dibungkam.

Di balik sajak-sajaknya, Thukul mengajarkan bahwa suara rakyat bukan untuk diam, tapi untuk diperdengarkan, meski dengan nyawa sebagai taruhannya.

Pramoedya Ananta Toer, yang menulis tanpa kertas dan pena di Pulau Buru, berkata:

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X