Dalam sunyi sejarah, manusia kerap dihadapkan pada dua pilihan: menjadi bagian dari perubahan atau sekadar angka yang lewat dan dilupakan.
Hidup yang hanya untuk sekadar hidup adalah kemewahan yang terlalu sederhana untuk jiwa yang berpikir.
“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan,” tulis Soe Hok Gie, anak muda yang memilih berpikir dan berjalan di antara puing zaman, ketimbang terjebak dalam kenyamanan semu.
Ia tahu, menjadi manusia berarti menolak diam. Menolak apatis. Menolak pasrah.
Baca Juga: Skandal TPPU usaha sawit Duta Palma, Kejagung kini menyita total uang senilai Rp6,8 triliun
Menjadi manusia sejati adalah menjadi pemusar—pusat dari getaran perubahan, poros dari semangat pembebasan.
Mereka yang hidup bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk sebuah gagasan yang lebih luas: keadilan sosial, martabat manusia, kebebasan berpikir.
Wiji Thukul menulis:
"Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa"
Kata-kata itu bukan sekadar puisi. Ia adalah nyala api di tengah malam, suara hati yang tak bisa dibungkam.
Di balik sajak-sajaknya, Thukul mengajarkan bahwa suara rakyat bukan untuk diam, tapi untuk diperdengarkan, meski dengan nyawa sebagai taruhannya.
Pramoedya Ananta Toer, yang menulis tanpa kertas dan pena di Pulau Buru, berkata:
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah."
Artikel Terkait
ESAI : Pramoedya Ananta Toer mimpi Brahmana melawan tirani
Sinopsis buku Soe Hok Gie 'Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan'
Zaman Peralihan, merenung karya Soe Hok Gie dalam gelombang perubahan
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie
Soe Hok Gie: 7 Kutipan yang harus diingat pemuda hari ini
Soe Hok Gie dan relevansi gerakan mahasiswa hari ini
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer