Ia tidak sekadar menulis novel. Ia membangun kesadaran. Ia menjahit kembali harga diri yang dilucuti oleh penjajahan dan ketidakadilan.
Dari mereka kita belajar: hidup bukan untuk diam, bukan untuk sekadar lulus, kerja, menikah, dan mati.
Hidup adalah perjalanan menjadi terang bagi orang lain, menjadi akar dari pohon besar bernama peradaban.
Kita bisa menjadi siapa saja—guru, petani, jurnalis, seniman, pemikir, pegiat. Tapi satu yang tak boleh dilupakan: jangan menjadi benalu.
Jangan hanya hidup dari sumbangan zaman tanpa memberi kembali.
Jangan hanya pandai mengkritik, tapi malas membangun. Jangan hanya menjadi sorak-sorai, tapi tak ikut berjuang.
Baca Juga: Ketegangan meningkat imbas tarif resiprokal, China dan AS bakal berunding di Jenewa
Karena pada akhirnya, sejarah akan bertanya:
apa yang kau tanam untuk dunia ini?
Dan semoga kita bisa menjawab dengan kepala tegak:
"Aku telah hidup. Dan aku telah memberi makna."
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) Jakarta
Artikel Terkait
ESAI : Pramoedya Ananta Toer mimpi Brahmana melawan tirani
Sinopsis buku Soe Hok Gie 'Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan'
Zaman Peralihan, merenung karya Soe Hok Gie dalam gelombang perubahan
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie
Soe Hok Gie: 7 Kutipan yang harus diingat pemuda hari ini
Soe Hok Gie dan relevansi gerakan mahasiswa hari ini
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer