esai

ESAI: Menggelitik tersendat: Catatan centil tentang tiga baris batavian haiku

Jumat, 18 April 2025 | 11:54 WIB
Ikhsan Risfandi dikenal dengan nama pena Irzi, Penulis Puisi

Membuat haiku Betawi itu seperti mencoba menyulap kerak telor jadi sashimi: tak hanya nekat, tapi juga harus punya nyali campur selera absurd yang matang.

Tapi begitulah kira-kira motivasi awal saya ketika menulis Batavian Haiku #1.

Sebuah percobaan—atau kalau mau agak lebay, sebuah pergulatan eksistensial—antara bahasa lokal dan struktur puisi paling hemat di dunia.

Baca Juga: Menohok! Deddy Corbuzier soroti isu perselingkuhan Ridwan Kamil, sebut jadi viral gegara ‘kebodohan’ netizen

Mari kita tilik kembali tiga bait haiku tersebut:

Batavian Haiku #1

Tengari bolong

nimpe mangge tetangge

nibla—nyungsep.

Wayah menggerip

bengkek duren dewekan

...kemelekeran.

Molor di pangkeng

"minum di gelas kecil"

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB