Membuat haiku Betawi itu seperti mencoba menyulap kerak telor jadi sashimi: tak hanya nekat, tapi juga harus punya nyali campur selera absurd yang matang.
Tapi begitulah kira-kira motivasi awal saya ketika menulis Batavian Haiku #1.
Sebuah percobaan—atau kalau mau agak lebay, sebuah pergulatan eksistensial—antara bahasa lokal dan struktur puisi paling hemat di dunia.
Mari kita tilik kembali tiga bait haiku tersebut:
Batavian Haiku #1
Tengari bolong
nimpe mangge tetangge
nibla—nyungsep.
Wayah menggerip
bengkek duren dewekan
...kemelekeran.
Molor di pangkeng
"minum di gelas kecil"