esai

ESAI: Dinamika ketertarikan dan meninggalkan agama di negara-negara maju

Minggu, 13 April 2025 | 15:45 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: ESAI: Kembali pada stereotip warisan pada penjurusan IPA IPS di SMA

Apakah mungkin bahwa dalam kegemilangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi, manusia justru semakin kehilangan sesuatu yang paling mendasar: rasa terhubung?

Terhubung, bukan hanya antar individu dalam relasi sosial, melainkan pada sesuatu yang lebih tinggi, lebih dalam, lebih abadi.

Kita hidup dalam peradaban yang setiap detiknya memproduksi kenyamanan dan efisiensi, tetapi justru semakin haus akan makna dan tujuan.

Kita bisa mengukur jarak antar galaksi, namun belum tentu mengerti jarak antara hati dan kebahagiaan.

Baca Juga: 2 Tuntutan ‘UU pencegahan Kim Soo-hyun’, belajar dari kasus dugaan tindakan grooming sang aktor pada mendiang Kim Sae-ron

Karl Jaspers menyebutkan bahwa manusia adalah das Umgreifende, makhluk yang terus berada dalam pencarian terhadap yang melampaui dirinya.

Maka ketika dunia seolah-olah telah 'mencapai segalanya', bukan tak mungkin manusia justru mulai menyadari bahwa yang selama ini mereka kejar hanyalah fragmen dari sebuah realitas yang lebih utuh.

Di titik inilah spiritualitas, dalam segala bentuknya agama, meditasi, pencarian makna muncul kembali sebagai respons terhadap kekosongan eksistensial yang tak bisa dipenuhi oleh akumulasi materi.

Pertanyaannya bukan lagi apakah religiositas bertolak belakang dengan kemajuan, melainkan apakah kita, sebagai manusia, telah mampu mendefinisikan ulang 'kemajuan' itu sendiri.

Baca Juga: Petisi UU pencegahan Kim Soo-hyun memenuhi syarat diajukan ke Majelis Nasional, berhasil kumpulkan lebih dari 53 ribu tanda tangan dukungan

Apakah kemajuan berarti dominasi atas alam, atau justru kemampuan untuk hidup selaras dengannya?

Apakah negara yang maju adalah negara yang seluruh rakyatnya makmur, ataukah negara yang mampu menciptakan warga yang tak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga dalam kesadaran batin?

Dalam lanskap dunia yang kian plural dan saling terhubung, mungkin sudah waktunya untuk menggeser cara kita memandang hubungan antara ilmu, iman, dan kemajuan.

Alih-alih saling meniadakan, ketiganya bisa menjadi pilar bagi masyarakat yang tidak hanya rasional, tetapi juga welas asih; tidak hanya produktif, tetapi juga bijak; tidak hanya bertumbuh, tetapi juga berakar.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Feodalisme warisan budaya materi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:45 WIB

ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:44 WIB

ESAI: Pada hari kemerdekaan, biarkan pekerja pulang

Sabtu, 8 Agustus 2026 | 01:26 WIB

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB