Tapi sekarang mungkin hanya tinggal satu dua kendaraan saja yang saldo kurang atau lupa.
Lebih dulu lagi, kita sempat syok dengan konversi bahan bakar minyak tanah ke gas. Banyak emak-emak demo, takut gas meledak.
Perlahan minyak tanah dikurangi hingga sekarang sudah tidak ada penjualan untuk rumah tangga.
Kini, belanja apapun tinggak klik. Tidak perlu pergi ke tokoh atau swalayan. Semua sudah ada dalam genggaman. Syaratnya sederhana, punya hape, punya paket data internet dan saldo.
Baca Juga: Akun pengamat IT ini digeruduk netizen pasca isu ransomware BRI terbukti hoax
Ada yang tanya dan mengeluh, bagaimana dengan pelanggan yang tidak punya hape? Tidak paham medsos dan gadget?
Saya bilang, tinggal minta bantuan anaknya atau saudaranya saja untuk membayar. Sebab kini, tukang ojek, tukang becak, sopir, tukang warung pun sudah pada melek digital.
Kebetulan penelitian magister saya tentang partisipasi masyarakat Subang secara digital. Di BPS datanya ada, seberapa besar akses masyarakat Subang ke media sosial. Tinggal dibuka saja.
Alhamdulillah sejak Februari 2024 pembayaran online sudah hampir 70 persen. Sisanya memang masih ada yang datang ke kasir.
Baca Juga: Kata pakar, ransomware yang serang BRI ternyata janggal: Data hacker ternyata sudah ada di scribd
Sebelumnya, bayar online hanya bisa dilakukan untuk pembayaran sampai tiga bulan.
Nunggak lebih dari tiga bulan harus banyar ke kasir. Sekarang sudah diubah, tunggakan lebih dari tiga bulan, tetap bisa bayar secara online.
Tapi harus ingat ini, sesuai aturan, pelanggan nunggak bayar dua bulan akan kena penutupan.
Jika tidak juga membayar, tunggakan tiga bulan ke atas, maka meter air akan dicabut. Untuk membuka kembali harus bayar lunas, denda dan biaya pemasangan ulang.