Kata pakar, ransomware yang serang BRI ternyata janggal: Data hacker ternyata sudah ada di scribd

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Kamis, 26 Desember 2024 | 14:14 WIB
Ilustrasi. Serangan ransomware yang diklaim menyerang BRI dipasikan janggal oleh pakar keamanan IT (Pixabay/Geralt)
Ilustrasi. Serangan ransomware yang diklaim menyerang BRI dipasikan janggal oleh pakar keamanan IT (Pixabay/Geralt)

GENMILENIAL.ID - Beberapa hari lalu, heboh isu Bank Rakyat Indonesia (BRI) jadi korban Ransomware berdasarkan klaim Bashe.

Kabar mengenai serangan Ransomware ini dimulai dari unggahan akun @FalconFeedsio di X pada 18 Desember 2024. Sontak, peristiwa ini sempat membuat khawatir masyarakat.

Sebelumnya, akun @FalconFeedsio di X, menulis status, "Ransomware Alert. Bank Rakyat Indonesia, has fallen victim to Bashe Ransomware,"

Baca Juga: Polres Subang ungkap peredaran obat ilegal dan amankan dua tersangka dalam operasi 100 Hari ASTA CITA

Dalam bahasa Indonesia artinya, "Peringatan Ransomware. Bank Rakyat Indonesia, telah menjadi korban Bashe Ransomware," 

Peringatan itu masih belum bisa dipastikan kebenarannya. Namun itu telah berhasil menarik perhatian.

Minimal, masyarakat jadi mengetahui ada sekelompok Ransomware di dunia maya bernama Bashe.

Siapa Bashe? Kelompok yang mengaku hacker ini sebelumnya dikenal sebagai APT73 atau Eraleig, yakni kelompok Advanced Persistent Threadt (APT).

Baca Juga: Ingin lanjutkan sekolah, penari cilik dari Tasikmalaya bercita-cita ingin jadi juara pada Festival Galuh Pakuan di Kabupaten Subang

Mereka mulai meresahkan dunia internet pada tahun 2024 dengan menyebarkan klaim Ransomware. Biasanya kelompok Ransomware bergerak dengan motif finansial.

Target Ransomware tersebar ke seluruh penjuru dunia, mulai dari Amerika Utara, Perancis, Jerman, Inggris Raya, Australia, hingga India. Mereka menarget berbagai sektor bernilai tinggi seperti manufaktur dan perbankan.

Kelompok hacker Ransomware Bashe bahkan menetapkan tenggat tebusan pada Senin, 23 Desember 2024 Pukul 16.00 WIB.

Kelompok tersebut mengancam akan jual data yang diperoleh kepada pihak ketiga jika BRI tidak menebusnya. Bashe menetapkan tebusan senilai 5 Bitcoin atau setara dengan Rp7,9 miliar. 

Baca Juga: Hidupkan roda ekonomi, seperti ini kata para pedagang dengan adanya Festival Galuh Pakuan di Kabupaten Subang

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X