Guru adalah profesi yang paling disegani dan sekaligus penuh dengan hambatan. Pengembangan kepribadian siswa terjadi karena peran guru dalam proses belajar mengajar dan proses bimbingan di sekolah.
Pekerjaan guru sangat dihargai dan begitu mulia. Akan tetapi, sebagai pendidik, guru banyak mengalami stres akibat dari profesi yang dijalaninya tersebut.
Memang tidak bisa dipungkiri, mengajar adalah salah satu pekerjaan atau profesi yang paling stres.
Hal tersebut dikarenakan profesi sebagai pengajar melibatkan berbagai emosi-emosi dimana emosi yang demikian memainkan peran penting dalam interaksi guru dan siswa.
Baca Juga: Polisi telah mintai klarifikasi pada 26 saksi dan 11 ahli atas laporan terhadap Aiman Witjaksono
Oleh karena itu, stres yang dialami oleh guru merupakan pengalaman yang tidak hilang begitu saja karena itu adalah sebagai konsekuensi dari profesi sebagai pendidik.
Menurut survei yang dilakukan oleh PPM Manajemen pada tahun 2020 menyebutkan bahwa 80 persen pekerja mengalami gejala stres.
Dari berbagai negara, baik di negera-negara Barat maupun negara-negara Timur, seperti Singapura, Malaysia, Jepang, dan Cina, mengajar merupakan pekerjaan yang paling stres.
Berdasarkan temuan Nita, et al. tahun 2018 yang dilaporkan bahwasannya lebih dari sepuluh tahun terakhir, sekitar 5.000 guru negeri di Jepang pertahunnya mengambil cuti sakit karena kesehatan mental.
Baca Juga: Leon Dozan ditahan polisi, Betharia Sonata bersimpuh meminta maaf kepada Ibunda Rinoa Aurora
Tingginya tingkat stres yang dialami guru dapat berdampak pada pencapaian sekolah yang kurang maksimal, termasuk berkaitan pada tingginya tingkat ketidakhadiran, kelelahan psikologis, suasana sekolah, dan pengelolaan perilaku guru.
Maka, stres dalam pekerjaan tidak hanya dialami oleh yang berprofesi sebagai pengusaha, buruh dan yang lainnya.
Namun, dalam dunia pendidikan juga demikian contohnya banyak tenaga pendidik yang mengalami stres disebabkan karena karakter buruk dari siswa, aturan kepala sekolah yang tidak sesuai, kurangnya dukungan dari rekan kerja, tuntutan tugas yang terlalu banyak, gaji yang tidak sesuai, keadaan pekerjaan yang kurang baik dan adanya perubahan kebijakan pendidikan dari pemerintah.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Sri Z pada tahun 2019 menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja mental dan stres kerja pada tenaga pendidik.