Materi-materi sosialisasi dapat dibalut dalam bentuk permainan interaktif maupun kita dapat gagas hingga pembuatan game konsol yang bernuansa Pemilu.
Selain itu, lokasi atau venue yang kita gunakan dalam penyampaian materi sosialisasi dapat juga mempengaruhi minat dan perhatian dari para kelompok pemilih pemula usia dewasa tersebut contohnya dalah skema dan layout dibuat semenarik mungkin dengan pendekatan suasana tongkrongan anak muda.
Ada hal yang tidak kalah penting dalam upaya kolektif untuk meningkatkan angka partisipasi memilih di masyarakat khusus kepada kelompok pemilih baru usia dewasa yang baru menginjak 17 tahun adalah dimunculkannya role model atau teladan yang menginterpretasikan figur dan sikap pergaulan dari kelompok tersebut.
Dengan adanya teladan itu maka kita dapat merangsang minat dan ketertarikan para kelompok pemilih baru terhadap kepemiluan yang sedang kita sampaikan.
Baca Juga: Polsek Cikaum, berhasil amankan 2 pelaku pencurian besi bekas rel Kereta Api
Maka dari itu mereka memerlukan banyak bantuan penjelasan akan hal baik dan tidak baik karena saat ini mereka lebih memilih internet atau media sosial sebagai subjek untuk mendapatkan jawaban.
Sebagai pelaku sosial, kelompok pemilih baru memiliki ruang pergaulan utama dalam kesehariannya untuk berinteraksi dan mendapat pengakuan dari sesamanya.
Dalam ruang-ruang tersebut mereka dibiasakan dengan kondisi dan komunikasi yang berulang-ulang sehingga tercipta rasa nyaman terlebih jika disana ada pembimbing atau idola yang bisa mereka ikuti.
Dan ruang-ruang tersebut adalah rumah, sekolah, dan lingkungan permainan yang memang setidaknya dapat kita jangku untuk bisa tersampaikannya sosialisasi mengenai kepemiluan.
Baca Juga: Meraup cuan, yuk segera ambil berbagai peluang bisnis ini!
Maka dengan alasan tersebut diasumsikan bahwa berkenaan dengan partisipasi pemilih pemula ada tiga faktor yang berperan sangat dominan, diantaranya orang tua, guru dan tokoh masyarakat.
Peran guru diantaranya memberikan pembelajaran kewarganegaraan, hak dan kewajiban warga negara, sistem pemerintahan demokrasi, musyawarah untuk mufakat, kepatuhan terhadap peraturan, dan lain sebagainya yang fokus terhadap penanaman pemahaman sebagai wawasan kebangsaan warga negara.
Guru juga berkesempatan mensimulasikan pemilu dalam acara pemilihan ketua kelas dan ketua OSIS yang diselenggarakan disekolah dengan melibatkan peran seluruh siswa sebagai pemilih.
Sebagai bentuk awal kita dapat memperkenalkan bagaimana organisasi OSIS yang berada di sekolah-sekolah adalah bagian dari konteks Pemilu lingkup kecil dimana terdapat metode musyawarah dan implementasi kedaulatan dari setiap yang memiliki hak pilih hingga proses dalam pemilihan dan munculnya figur yang terpilih.
Baca Juga: 5 Hal yang harus diperhatikan dalam Investasi di pasar modal
Artikel Terkait
ESAI : Mencari pemimpin rakyat di Pemilu 2024
ESAI : Sekolah di masa depan
ESAI : Meminimalisir golput, tingkatkan kolaborasi dalam partisipasi politik masyarakat
ESAI : Subang dalam perspektif Generasi Milenial (Generasi Y)
ESAI : Pramoedya Ananta Toer mimpi Brahmana melawan tirani
Milenial Indonesia kukuhkan kepengurusan 34 Provinsi se-Indonesia
ESAI : Peran media sosial dalam pemilihan umum