Baca Juga: Dilema Whoosh: Transparansi kontrak, utang membengkak, dan opsi restrukturisasi jadi jalan tengah
Dalam menulis, seseorang tidak hanya menciptakan teks, tetapi juga menata dirinya sendiri.
Bahasa menjadi ruang latihan berpikir dan bereksperimen. Di sinilah letak keagungan sastra: ia menjadikan imajinasi sebagai jalan menuju pengetahuan.
Seperti kata Albert Camus, 'Seni dan pemberontakan tidak pernah terpisah.' Maka, dalam konteks bangsa kita, sastra bukan hanya ruang estetik, tetapi juga ruang etis dan politis, tempat di mana nurani berbicara ketika institusi bungkam, tempat kebenaran disuarakan tanpa perlu bendera.
Namun saya juga melihat paradoks.
Baca Juga: Wamen Haji Dahnil Anzar: Legalisasi umrah mandiri justru lindungi jemaah dan pelaku travel
Kita hidup di tengah ledakan kreativitas digital, tetapi miskin orisinalitas. Kita memiliki ribuan konten kreator, tetapi sedikit pencipta makna. Generasi muda belajar menulis caption, tetapi jarang menulis filosofi hidupnya.
Mereka fasih berbicara dalam emoji, tetapi gagap ketika harus menuturkan perasaan yang jujur. Mungkin karena dunia kita terlalu cepat, tak memberi waktu untuk merenung.
Di sinilah peran sastra menjadi genting, ia mengajarkan kita untuk berhenti, mendengarkan, dan menghayati. Menulis puisi, misalnya, bukan sekadar kegiatan seni. Ia adalah latihan spiritual.
Dalam menulis, kita menata batin sebagaimana musisi menata nada. Kita belajar mengenali kesunyian dalam diri. Kita mengakui luka, lalu mengubahnya menjadi keindahan.
Seorang penyair yang baik bukan hanya bermain kata, melainkan membangun jembatan antara logika dan rasa, antara diri dan dunia.
Sapardi Djoko Damono pernah berkata, “Puisi tidak menjelaskan, tapi menghadirkan.” Maka, melalui puisi, manusia belajar bahwa kebenaran tidak selalu harus dijelaskan, cukup dihadirkan, dirasakan, dan dihayati.
Namun tentu saja, kecintaan terhadap bahasa dan sastra tak bisa tumbuh dari retorika belaka. Ia harus ditanamkan dalam sistem pendidikan yang memberi ruang bagi kepekaan, bukan sekadar penghafalan.
Sekolah-sekolah kita terlalu sibuk menyiapkan siswa menjadi pekerja, bukan pemikir, menjadi penghafal, bukan pencipta.
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
ESAI : Menyoal sastra masuk kurikulum
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
ESAI: Membedah anatomi kauniyah, geomorfologi sastra, semiotika, dan filsafat fluiditas
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center
Subang Nyastra Vol. 4: Sastra jadi ruang hidup, terapi jiwa, dan identitas bangsa