ESAI: Bahasa dan sastra, jalan sunyi menuju kebangkitan kemanusiaan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 27 Oktober 2025 | 05:12 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: Dilema Whoosh: Transparansi kontrak, utang membengkak, dan opsi restrukturisasi jadi jalan tengah

Dalam menulis, seseorang tidak hanya menciptakan teks, tetapi juga menata dirinya sendiri.

Bahasa menjadi ruang latihan berpikir dan bereksperimen. Di sinilah letak keagungan sastra: ia menjadikan imajinasi sebagai jalan menuju pengetahuan.

Seperti kata Albert Camus, 'Seni dan pemberontakan tidak pernah terpisah.' Maka, dalam konteks bangsa kita, sastra bukan hanya ruang estetik, tetapi juga ruang etis dan politis, tempat di mana nurani berbicara ketika institusi bungkam, tempat kebenaran disuarakan tanpa perlu bendera.
Namun saya juga melihat paradoks.

Baca Juga: Wamen Haji Dahnil Anzar: Legalisasi umrah mandiri justru lindungi jemaah dan pelaku travel

Kita hidup di tengah ledakan kreativitas digital, tetapi miskin orisinalitas. Kita memiliki ribuan konten kreator, tetapi sedikit pencipta makna. Generasi muda belajar menulis caption, tetapi jarang menulis filosofi hidupnya.

Mereka fasih berbicara dalam emoji, tetapi gagap ketika harus menuturkan perasaan yang jujur. Mungkin karena dunia kita terlalu cepat, tak memberi waktu untuk merenung.

Di sinilah peran sastra menjadi genting, ia mengajarkan kita untuk berhenti, mendengarkan, dan menghayati. Menulis puisi, misalnya, bukan sekadar kegiatan seni. Ia adalah latihan spiritual.

Dalam menulis, kita menata batin sebagaimana musisi menata nada. Kita belajar mengenali kesunyian dalam diri. Kita mengakui luka, lalu mengubahnya menjadi keindahan.

Baca Juga: Adu argumen Menkeu Purbaya vs Dedi Mulyadi viral, Helmy Yahya sebut dua gaya komunikasi kuat: Koboi vs spontanitas

Seorang penyair yang baik bukan hanya bermain kata, melainkan membangun jembatan antara logika dan rasa, antara diri dan dunia.

Sapardi Djoko Damono pernah berkata, “Puisi tidak menjelaskan, tapi menghadirkan.” Maka, melalui puisi, manusia belajar bahwa kebenaran tidak selalu harus dijelaskan, cukup dihadirkan, dirasakan, dan dihayati.

Namun tentu saja, kecintaan terhadap bahasa dan sastra tak bisa tumbuh dari retorika belaka. Ia harus ditanamkan dalam sistem pendidikan yang memberi ruang bagi kepekaan, bukan sekadar penghafalan.

Sekolah-sekolah kita terlalu sibuk menyiapkan siswa menjadi pekerja, bukan pemikir, menjadi penghafal, bukan pencipta.

Baca Juga: Setelah Patrick Kluivert mundur, Bung Binder kritik permainan Garuda: Dulu 6 poin, sekarang acak-acakan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X